Saturday, March 24, 2012

Bentrok Bekasi 20 Maret 2012






Kronologi Bentrok Antar Warga di Bekasi Versi Polisi


Pada hari Selasa 20 Maret 2012 sekitar pukul 22.30 WIB terjadi bentrokan antar warga di Bekasi. Akibat bentrokan tersebut 1 (satu) orang meninggal dunia, dan 2 (dua) ranmor dibakar massa.


Kejadian:

Minggu 18 Maret 2012:
Sekitar pukul 23.00 WIB terjadi penganiayaan terhadap Sdr Fazli dan Sdr Norgen. Sepeda motor yang dikedarai korban ditinggal di TKP. Atas kejadian tersebut datang sekelompok orang yang bermukin di Perum Titian Indah, berjumlah sekitar 20 orang berniat untuk mengambil motor. Saat itu terjadi keributan dengan warga. Jatuh korban dari warga atas nama Sdr Kurniadi 26 Thn dengan luka sabetan benda tajam dibagian kepala. Jajaran Polresta Bekasi Kota segera melakukan tindakan pengamanan dilokasi.

Senin 19 Maret 2012:
Sekitar pukul 22.30 WIB warga Rawa Bambu berkumpul gerbang Perum Titian dengan membawa senjata tajam. Warga masyarakat yang sebagian besar anak-anak muda berhasil masuk ke Perum Titian. Bentrokanpun tidak terhindarkan. Akibatnya 2 orang dari warga luka bacok.

Selasa 20 Maret 2012:
Sekitar pukul 07.25 WIB massa menghentikan satu mobil Suzuki Vitara Nopol B 1961 NI, selanjutnya massa merusak dan membakar mobil tersebut. Sedangkan pengemudinya atas nama Jhony David Situmorang alamat Villa Indah Permai D2/12 Teluk Pucung Bekasi Utara dianiaya dan akhirnya dilarikan ke RS.

Sekitar pukul 09.00 WIB masyarakat Rawa Bambu kembali melakukan sweeping dan membakar seorang pengendara motor hingga tewas (identitas korban belum diketahui) beserta motornya.

Untuk menghindari bentrokan lebih lanjut diadakan pertemuan antara kelompok warga Titian Indah dan tokoh masyarakat Rawa Bambu dengan dihadiri unsur Muspika setempat untuk menyelesaikan permasalahan.

Preman Ambon Versi Warga Bekasi : Hanya bikin Jengkel


TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - "Mereka reseh kalau sudah mabuk." Keluhan itu disampaikan Effendi, warga kawasan Kampung, Rawabambu, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Jumat (23/3/2012).

Effendi mengeluhkan sikap anak buah John Kei yang tinggal di kawasan perumahan Titian Indah. Kampung Rawabambu bersebelahan dengan kompleks perumahan Titian. Dua tempat itu hanya dipisahkan oleh sungai dan jalan umum.

John Kei dikenal sebagai pimpinan gang yang berprofesi sebagai debt collector alias penagih utang. John Kei saat ini berada di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Polda Metro Jaya karena dituduh terlibat dalam kasus pembunuhan Tan Harry Tantono, bos pabrik baja Sanex Steel Indonesia.

Warga Kampung Rawabambu terlibat bentrok berkepanjangan dengan anak buah John Kei, Mulai Minggu (18/3/2012) hingga Selasa pagi, mengakibatkan dua orang tewas. Korban tewas ternyata tak terkait dengan dua kelompok bertikai alias korban salah sasaran.

Dari perumahan Titian Indah ke Rawa Bambu bisa dicapai dengan dua cara. Pertama melalui Jl Kalibaru Timur. Kedua melalui Jalan Mawar langsung tembus di depan jembatan gapura perumahan Titian Indah.

Kampung Rawabambu penduduknya beragam. Begitu pula di perumahan Titian Indah. Effendi, rumahnya di belakang warung Jamu Sidomuncul, menceritakan anak buah John Kei memiliki kebiasaan membuat onar. Menurutnya, bentrok itu dipicu kejadian pertama, yaitu ketika pada pukul 05.30 WIB tiga orang yang mengendarai dua sepeda motor membuat keributan di Jl Mawar, depan sebuah masjid. Pengendara motor itu menempeleng warga tanpa sebab.

Seminggu kemudian, pukul 23.00, dua orang tersebut membeli ginseng di toko jamu tak jauh dari lokasi kejadian sebelumnya. Naas bagi mereka, warga mengenali dua orang tersebut sebagai sang pembuat onar. Mereka kabur ke arah perumahan Titian Indah.

Sejam kemudian tiba-tiba muncul 30 orang dari perumahan Titian Indah, mengendarai sepeda motor dan memarkirnya di dekat warung jamu itu. Mereka bersenjata katana (pedang panjang ala Jepang yang sering dipakai para samurai) dan panah.

Delapan orang dengan pedang terhunus merangsek ke arah warung jamu. Kaca-kaca gerobak pedagang dan lampu-lampu di sekitar warung jamu tersebut mereka hancurkan.

Warga kocar-kacir. Perkelahian kelompok yang tidak seimbang itu berakhir setelah warga kampung memilih mundur dan bersembunyi. Tidak sampai sejam, polisi datang. Menurut pengakuan warga, polisi juga tidak bisa berbuat banyak. Massa yang dikenali sebagai anak buah John Kei itu bertindak beringas.

Serbu mobil


Perkelahian malam tersebut mengakibatkan hilangnya satu nyawa warga. Sementara yang lain menderita luka sabetan pedang dan kena anak panah.

Keesokan harinya, warga melakukan sweeping terhadap kendaraan yang lalu lalang di Jl Mawar. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Warga menghadang.

Warga akhirnya menyerbu mobil tersebut karena yakin yang di dalam mobil adalah musuh mereka. Tiga orang dalam mobil berhasil melarikan diri. Sedang sopirnya tewas dibakar massa. Ternyata sang sopir tak terkait masalah itu. Polisi menemukan KTP dalam dompetnya.

Menurut Fuad, seorang warga yang pernah kena pukul anak buah John Kei, mengaku sempat mendengar bakal ada aksi balas dendam dari kelompok John Kei. Beruntung keributan tidak pecah karena kepolisian segera menurunkan petugas Brimob dari Polda Jabar. Mereka akhirnya menandatangai kesepakatan damai.
Sampai hari ini, warung jamu tersebut masih tutup. Tidak seorangpun mengetahui keberadaan orang yang mengontrak warung tersebut.

Bentrok Preman Bekasi Versi Tito Refra Kei


TEMPO.CO , Jakarta:Tito Refra, adik kandung John Kei, mengatakan cerita pemicu bentrok di Bekasi versi polisi tak benar. Bentrokan warga dan kelompok John Kei ini dipicu perkelahian antar pemuda dan menewaskan dua orang.

Versi polisi, bentrok dipicu perkelahian antar pemuda kelompok Kei dengan warga. Sebabnya, pemuda dari kelompok Kei itu mabuk dan berbuat onar, sehingga salah seorang warga menghantam pemuda mabuk itu dengan botol saos.

Versi Tito justru sebaliknya. Nojen nama pemuda yang kepalanya dihantam botol saos. “Nojen. teman kerabat kami,” kata Tito saat dihubungi Tempo Rabu 21 Maret 2012 malam. Nojen tidak mabuk. Penghantam kepala Nojen dengan botol saos itu yang mabuk.

Ceritanya bermula saat Nojen bersama Zafri Hamzah, 17 tahun, mengendarai motor pergi ke suatu warung dekat perumahan Titian Indah untuk membeli rokok. Di sana mereka bertemu sekelompok pemuda yang sedang mabuk-mabukan. “Tidak ada hujan tidak ada angin, Zafri digebuk dan dipukul,” kata Tito.

Zafri adalah kerabat Tito Refra. Nojen, yang menunggu di atas motor, ikut digebuk juga. Kepalanya dihantam dengan botol saos. Perkelahian pun terjadi. Lantaran kalah jumlah, Nojen dan Zafri lari ke rumah di pemukiman Titian Indah. Motornya tertinggal di lokasi perkelahian.

Lantaran motornya tertinggal, Nojen dan Zahri balik lagi ke lokasi perkelahian. Kali ini membawa sekitar empat orang temannya. Saat kembali ke lokasi, rupanya sudah datang banyak polisi. Tito mengatakan ia sempat berpikir hendak melaporkan perampasan motor ke polisi. “Tapi bukan seperti itu jalan keluarnya,” katanya.

Perkelahian Ahad 18 Maret 2012 malam itu berbuntut panjang. Keesokan harinya situasi memanas. Menurut Tito, polisi yang berjaga di perumahan Titian Indah, Kalibaru Timur, Medan Satria, Bekasi, semakin banyak. “Ada informasi warga hendak menyerang,” katanya. Warga, kata Tito, menerobos perumahan Titian Indah, tapi berhasil dipukul mundur.

Bentrok berlanjut hingga Selasa 20 Maret pagi. Tapi bukan di pemukiman Titian Indah. “Warga melakukan sweeping. Tapi lokasinya jauh sekali dari rumah,” katanya. Hari itu setidaknya dua orang terbunuh dengan cara mengenaskan. Penuh luka bacok bahkan ada yang dibakar. Korban yang tewas adalah Joni Situmorang, 38 tahun, dan La Ode Amsir, 26 tahun. Tito mengatakan ia tidak kenal dengan kedua korban itu.

Semula ada informasi bahwa koban tewas merupakan anak buah John Kei. Namun saudara korban tewas itu membantahnya. Polisi belum dikonfirmasi mengenai penjelasan Kei ini, begitupula warga sekitar kejadian.

FBR Membantah Terlibat Bentrok Bekasi


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Forum Betawi Rempug Luthfi Hakim membantah pihaknya terlibat dalam bentrokan dengan kelompok Kei di Perumahan Titian Indah, Keluarahan Kalibaru, Kecamatan Medan Satria, Bekasi, Selasa (19/3/2012) pagi. Hal ini diutarakan Luthfi menanggapi pesan-pesan yang menyebar melalui Blackberry Messanger.

"Di bentrokan itu tidak ada FBR. Dari informasi yang saya dapat, itu bukan pertikaian antaretnis, atau ormas, apalagi agama. Itu murni dari warga yang sudah muak, bukan FBR," kata Luthfi, Selasa malam, saat dihubungi wartawan.

Sebelumnya, keributan pecah antara warga asal Ambon dan warga setempat di Perumahan Titian Indah, Kalibaru, Senin (19/3/2012) sekitar pukul 23.00. Keributan ini diawali pada Minggu (18/3/2012) malam ketika seorang warga etnis Ambon membeli minuman keras di sebuah warung, lalu membuat onar di Kampung Rawabambu.

Karena kesal, seorang warga lalu memukul pria Ambon itu dengan botol saos, hingga korban luka-luka di kepalanya. Melihat temannya luka, sejumlah pria Ambon lainnya melakukan sweeping pada saat itu. Salah seorang warga setempat, Septian Yahya Saputra (19), kena bacok di punggng, kepala, dan tangan kirinya. Pemuda tanggung itu kini masih dalam perawatan di RS Ananda, Kota Bekasi.

Melihat warganya semaput, sekitar 200 warga dari Kampung Rawabambu melakukan serangan balik ke kelompok pria Ambon yang tinggal di Perumahan Titian Indah pada Senin tengah malam. Keributan berlanjut sampai Selasa pagi ini. Satu motor dan satu mobil dibakar massa, yang diduga salah sasaran. Sementara itu, dua orang tewas serta dua lainnya mengalami luka dan menjalani perawatan intensif di RSUD Bekasi.

Korban Bentrok Bekasi : Joni Situmorang


TEMPO.CO, Jakarta - Bentrok kelompok massa anak buah John Kei dan warga menimbulkan korban tewas dan luka. Kekerasan pada Selasa, 20 Maret 2012 dinihari setidaknya mengakibatkan dua orang tewas.

Satu korban yang diidentifikasi adalah Joni Situmorang, 38 tahun. Dia disebut-sebut bekerja sebagai sopir anak buah John Kei. Joni tewas di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi karena luka bacok di sekujur tubuh. Mobil yang dia kendarai, Suzuki Fitara, hangus dibakar warga.

Seorang korban lagi belum diketahui identitasnya. Tubuhnya hangus sehingga sulit dikenali. Korban diperkirakan berumur 30 tahun. Perkelahian itu terjadi mulai pukul 04.00. Korban terdesak dan masuk got. Kelompok lawan terus merangsek dan menyiram tubuh korban dengan bensin lalu membakarnya. Dia tewas di tempat kejadian dengan kondisi tubuh gosong. Sepeda motor yang dikendarai korban juga dibakar.

Polisi mengidentifikasi satu korban luka bernama Septian Yahya Saputra, 19 tahun. Ia kritis di Rumah Sakit Ananda Bekasi sebab luka bacok di punggungnya. Juru Bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan kepolisian masih berupaya memediasi kedua belah pihak agar tidak ada lagi jatuh korban dari bentrokan tersebut.

Joni Situmorang dan Laode Amsir alias Kosim korban Bentrok Bekasi


BEKASI, TRIBUN - Bentrok di kawasan Rawabambu, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, mengakibatkan dua orang tak bersalah kehilangan nyawa. Korban saat itu kebetulan tengah melintas di lokasi, dan terjebak aksi sweeping yang dilakukan warga terhadap kelompok John Kei, Selasa (203/2012) lalu.

Kedua korban itu yakni, Jhony David Situmorang (37), warga Perumahan Vila Indah Permai, Blok D2 Nomor 12, RT 2 RW 33 Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, Kota Bekasi, serta Laode Amsir alias Kosim (30), warga Warakas, Jakarta Utara.

Ada keperluan untuk membeli sejumlah perlengkapan bahan material, Laode alias Kosim (pria asal Buton, Sulawesi Tenggara), saat itu melintas di lokasi. Naas bagi Kosim. Hanya karena berkulit hitam dan mengenakan kalung rantai, dia menjadi sasaran amukan warga yang mengira ia anak buah John Kei.

Mengendarai motor jenis Honda Revo, Kosim terkena sabetan pedang dan senjata tajam lainnya. Kosim jatuh tersungkur ke jalan dan massa membakarnya hingga tewas di lokasi kejadian.

Nasib yang lebih kurang sama juga dialami Jhony, pria asal Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Ditemui di kediamannya, sang istri, Neni Setiawati, menceritakan sebelum kejadian Jhony berpamitan berangkat kerja mengendarai mobil Suzuki Vitara B 1961 NI. "Waktu berangkat dari rumah, bapak pamit pergi berangkat kerja," ujarnya kepada Tribun Jakarta, Jumat (23/3/2012)

Pagi itu, Neni beraktifitas seperti hari-hari biasa. Ia mengatarkan kedua putrinya, Stella (11) dan Pactricia (8) berangkat ke sebuah SD dekat rumahnya. Saat dalam perjalanan mengantarkan Stella ke sekolah, rupanya telepon genggam Neni berdering.

Dari ujung telepon, rupanya rekan kerja Jhony mengabarkan sang suami ada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi. Rekan kerja itu tidak menyebutkan alasan Jhony berada tempat itu.

Sepanjang perjalanan ke sekolah putrinya, pikiran Neni terus melayang dan bertanya-tanya. Saat itu pula, Neni kembali ke rumah dan menjemput kembali Pactricia dari sekolah. Ia memacu motornya ke rumah sakit.

"Sepanjang di perjalanan ke rumah sakit, jantung saya dag-dug. Pikiran terus melayang. Saya berdoa, agar suami saya tidak terjadi apa-apa," ucap Neni sembari memangku foto pernikahannya.

Setiba di rumah sakit, Neni bertanya ke bagian petugas penerima tamu. Petugas tersebut tidak menyebutkan sakit yang diderita Jhony, justru mengantarkan Neni ke arah belakang rumah sakit, tepatnya kamar jenazah.

"Saya waktu itu juga belum dikasih tahu kalau suami saya sudah meninggal. Saya terus pegang tangan anak saya dan terus berdoa. Petugas rumah sakit cuma bilang, ibu yang kuat yah. Setelah beberapa menit, petugas itu baru bilang kalau suami saya sudah meninggal dunia," ujarnya. Abdul Qodir

Dua Kelompok yang bertikai akhirnya Damai, tapi nyawa korban tetap hilang


JAKARTA, KOMPAS.com - Keributan yang terjadi di Perumahan Titian Indah, Kelurahan Kalibaru Timur, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi membuat dua orang tewas dan dua orang lainnya luka. Sejumlah aparat kepolisian masih berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian. Sementara, pejabat dari unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kota Bekasi langsung terjun ke lokasi kejadian untuk meredam situasi.

Mereka datang untuk mengawal proses kesepakatan damai antara dua kubu yang bertikai yakni warga Rawabambu dan kelompok Kei, Maluku yang menghuni di perumahan Titian Indah Bekasi.

"Saat ini pejabat Pemda dan unsur Muspida sedang galang kesepakatan damai dengan masyarakat supaya tidak berkembang lagi. Sehingga dibuat perjanjian perdamaian yang ditandatangani kedua belah pihak," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Selasa (20/3/2012), di Mapolda Metro Jaya.

Tito Refra, adik pimpinan kelompok Kei, mengakui adanya perjanjian damai itu. Namun, dia enggan menjelaskan lebih lanjut soal latar belakang bentrokan tersebut.

"Saya tidak bisa bicara. Sebab, intinya kami sudah damai dengan warga. Kesepakatan damai dihadiri tokoh pemuda setempat di Titian Indah dan difasilitasi muspida seperti Wali Kota, Wakapolres, serta Dan Ramil," ujarnya saat dihubungi wartawan.

Sebelumnya, keributan pecah antarwarga di Perumahan Titian Indah, Kalibaru pada Senin (19/3/2012) sekitar pukul 23.00. Keributan ini diawali pada Minggu (18/3/2012) malam. Saat itu salah seorang warga membeli ninuman keras di sebuah warung, lalu membuat onar di Kampung Rawabambu.

Diduga karena kesal, seorang warga lalu memukul pria yang membeli minuman keras itu dengan botol saos, hingga korban luka-luka di kepalanya. Melihat temannya luka, sejumlah teman lainnya melakukan sweeping, pada saat itu. Salah seorang warga setempat, Septian Yahya Saputra (19), kena bacok di punggung, kepala, dan tangan kirinya. Pemuda tanggung itu kini masih dalam perawatan di RS Ananda, Kota Bekasi.

Melihat warganya semaput, sekitar 200 warga dari Kampung Rawabambu melakukan serangan balik ke kelompok pria penganiaya yang tinggal di Perumahan Titian Indah pada Senin tengah malam. Keributan berlanjut sampai Selasa (20/3/2012) pagi. Satu motor dan satu mobil dibakar massa, yang diduga salah sasaran. Sementara itu, dua orang tewas dan dua lainnya mengalami luka dan menjalani perawatan intensif di RSUD Bekasi.


Kepala Herlan Terkena Batu


HERLAN, warga Rawabambu, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, ikut menyerang anak buah John Kei yang tinggal di perumahan Taman Tytyan Indah, Kalibaru. Namun ia mengakui tidak tahu menahu sebab musabab keributan itu.

Herlan ikut karena rasa solidaritas. Ia mengungkapkan, ratusan massa berkumpul di Jalan Mawar V, Senin (19/3/2012) malam itu. "Massa berasal dari banyak kampung di sini. Saya juga nggak banyak kenal mereka," ujar Herlan, ketika ditemui di rumahnya, Jumat (23/3/2012).

Massa yang terkumpul tersebut menyerang warga anak buah John Kei sekitar pukul 22.30 WIB, Senin. Mereka bersenjatakan batu, kayu, bambun, dan ketapel. Tanpa dikomando mereka merangsek ke dalam kompleks perumahan Taman Tytyan Indah.

Massa tak menyangka anak buah John Kei telah bersiap dengan katana (pedang panjang ala Jepang) dan panah.Herlan tidak sempat melihat panah tersebut. Dia hanya mendengar orang meneriakkan kata panah.

Herlan bernasib buruk karena ia terkena lemparan batu di kepala dan dahinya. Saat itu juga ia dibawa ke klinik dekat masjid. Namun pihak klinik menyarankan agar luka-luka yang diderita Herlan dirawat di RSUD Bekasi. Total 13 jahitan di dahi dan kepalanya.

Selanjutnya, ia hanya mengetahui pihak yang bentrok telah berdamai. Menurut pengakuan Herman, di lokasi bentrokan polisi sudah berjaga-jaga. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena jumlah massa lebih banyak.

Kisah Korban Sia-sia Bentrok Bekasi
Sepatu Ayah Jadi Kenangan


"SAYA bilang, ini pasti bercanda. Saya makin penasaran karena di depan kamar jenazah sudah ada beberapa polisi." Itulah perasaan Neni Setiawati ketika pertama kali diberitahu suaminya menjadi korban tewas bentrok di Bekasi.

Saat hendak memasuki kamar jenazah, rupanya putri kecil Neni, Pactricia, melihat sepasang sepatu di bawah teralis jendela. Ia memastikan sepatu itu milik ayahnya.

"Saya cek, memang iya. Lalu, sepatu itu ditenteng putri saya sampai kami masuk dan berada di depan satu jenazah," ujarnya. Di kamar jenazah, Neni melihat dua jenazah terbaring, ditutupi kain putih.

Rupanya, jenazah Jhony ada di baris kedua. "Ketika kain jenazah yang pertama saya buka, ternyata Laode itu. Yang kedua, baru jenazah suami saya," ujarnya.

Neni langsung lemas dan menangis seketika. Namun, ia tetap sadar karena di sebelah kanannya sang putri bungsu juga ikut menyaksikan. "Saya coba tahan tangis. Justru si Patrice yang bilang ke saya agar saya kuat. Saya makin terharu," ujarnya.

Ketika tengah diwawancarai Tribun Jakarta di ruang tamu, Neni dan sepupunya mengaku mendengar dua kali suara bel sepeda di bagian belakang rumah. Setelah dicek, ternyata tidak ada orang di sekitar sepeda putrinya itu.

"Mungkin suaminya lagi kasih tahu, kalau dia sedang ada di sini. Kalau saya memang kangen. Ohh iya di dekat sepeda juga ada sepatu yang dipakai suami saya waktu kejadian itu," ujar Neni.

Update 25 Maret 2012, Umar Kei : Bentrokan, Masalah Anak Buah John Kei dengan Warga


Ketua Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), Umar Kei mengatakan, insiden bentrokan di perumahan Titian Indah, Bekasi, Jawa Barat murni terjadi antara keluarga John Kei dengan warga setempat.

"Saya tidak harus berpihak kepada siapa, kejadian Titian itu murni kelurga John Kei dengan masyarakat yang ada di situ," ungkapnya, kepada wartawan di rumah Daud Kei, Jakarta Selatan, Sabtu malam (24/3).

Dituturkan, awalnya ia dihubungi Tito pukul 01:00 WIB, Senin dinihari (20/3). Kemudian ia menuju ke perumahan tersebut. Di sana, ia bertemu Kapolres, Kasat Intel dan Serse serta aparat TNI.

Ia mendatangi warga untuk mencari tahu penyebab bentrokan berdarah yang menewaskan dua orang itu. Namun, ia tidak mendapat jawaban karena tidak ada yang dituakan untuk menjelaskan. Karena tidak mendapatkan informasi, ia meminta kepada Kasat Intel dan Serse agar mengawal dirinya masuk ke rumah John Kei guna mempertanyakan yang sebenarnya kepada Tito. "Saya dikawal enam personel," ucapnya.

Dikatakan, sesuai keterangan Tito, saat pulang dari kampung warga, anak buah John Kei dicegat warga dan dipukuli sebelum terjadi penyerangan warga. Kemudian, Umar meminta polisi untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan.

Menurutnya, saat berada di kediaman John Kei, penjagaan aparat hampil berhasil ditembus warga dan warga hampir menyerangnya. Karena kemudian aparat datang lebih banyak dan beberapa truk polisi masuk, massa berhasil dihalau.

Karena sudah dijaga aparat kepolisian, Umar meninggalkan rumah John Kei. Ia baru mengetahui ada dua orang yang dibakar. Pada pukul 10:00 WIB. Ia langsung menelepon Tito. Menurut Tito, korban bukan dari pihak John Kei.

Diuraikannya, pukul 11:00 WIB, Umar mengaku kembali ditelepon dan dikabarkan warga FBR dan Gabus kembali melakukan penyerangan. Kemudian, ia langsung menuju Korwil FBR Jakarta Timur agar meminta massanya mundur. "Keingan saya tidak ada keributan antara masyarakat dan Keluarga Indonesia Timur," ucapnya berharap.

Ia meminta FPMM Bekasi melakukan pertemuan dengan berbagai organisasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Menurutnya, masalah tersebut baru selesai pukul 17.00 WIB dan telah membuat kesepakatan tertulis. Bekasi saat ini sudah kondusif.

Ia mengharapkan masyarakat dan media tidak menyangkutpautkan urusan tersebut dengan beberapa kelompok asal Indonesia timur lainnya. Pasalnya, kasus tersebut murni terjadi antara Keluarga John Kei dengan warga perumahan tersebut.


Sumber:
Anak Buah John Kei Bikin Jengkel
Pemicu Bentrokan Bekasi versi Kubu John Kei
Bentrok Antar Warga Di Bekasi
FBR Bantah Terlibat Bentrok di Bekasi
menjadi sasaran amukan warga
Dua Kelompok yang Bertikai Sepakat Damai
Bentrokan, Masalah Anak Buah John Kei dengan Warga
Foto : tempo
Gambar mengerikan silahkan kunjungi link http://kkcdn-static.kaskus.us/images/2742362_20120320015050.jpg dan http://kkcdn-static.kaskus.us/images/2742362_20120320015102.jpg

Footage video mengerikan, kalau nggak berani nggak usah di tonton:

Judul: Bentrok Bekasi 20 Maret 2012 ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

0 komentar :

Post a Comment