Tuesday, May 15, 2012

beberapa kumpulan misteri gunung salak


Gunung Salak, Kuburan Pesawat Terbang di Indonesia


Seringnya kecelakaan di Gunung Salak, di wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, membuat gunung Salak disebut-sebut sebagai 'kuburan' pesawat terbang. Selain dibumbui aroma mistis mengingat kabut tebal selalu menyelimuti gunung tersebut dikenal dengan nama 'Halimun', dari segi logika kabut tebal secara tidak langsung akan mengganggu perjalanan pesawat terbang. Dan tragedi pesawat Sukhoi Superjet 100 yang diduga menabrak tebing gunung, Rabu (9/5) menjadi contohnya.

Bagi kalangan pegiat alam bebas sendiri, karakteristik gunung tersebut memang terbilang unik dibandingkan gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa, atau bisa dikatakan karakteristiknya menyerupai dengan gunung di Bukit Barisan yang membelah Bumi Andalas atau Sumatera. Bahkan, gunung tersebut juga banyak menelan korban dari kalangan pendaki gunung, mengingat cukup ekstremnya medan ditambah dengan kondisi hutan yang cukup lebat. Alhasil, memudahkan orang yang kurang memahami dunia alam bebas, tersesat di gunung tersebut.

Dari data Wikipedia menyebutkan, hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest). Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).

Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka yang bernama Rafflesia rochussenii, yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya. Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Kembali dengan persepsi Gunung Salak menjadi 'kuburan' pesawat terbang, serangkaian kecelakaan pernah terjadi di gunung yang masuk ke wilayah Taman Nasional Gunung Salak Halimun itu. Di antara catatan itu, pada 15 April 2004, pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport, jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Sedikitnya tiga orang dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu.

Pada 20 Juni 2004, pesawat Cessna 185 Skywagon, jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor dengan lima orang tewas. Lalu empat tahun kemudian pada periode yang sama atau Juni 2008, pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut dengan 18 orang tewas.

Setahun berselang, pada 30 April 2009, kecelakaan kembali terjadi. Kali ini korbannya pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug yang jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Tiga orang tewas dalam kecelakana itu.

Dan terakhir menimpa pesawat Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia, Rabu, 9 Mei 2012 yang jatuh di Gunung Salak dengan jumlah penumpang 46 orang.

Hari Purwanto tentang Sukhoi Superjet 100


Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan Keamanan, Hari Purwanto menyatakan, penerbangan melalui kawasan Gunung Salak tidak seharusnya di ketinggian enam ribu kaki, karena tinggi gunung itu sendiri sekitar 2.200 meter dengan kondisi awan tebal yang selalu meliputi pegunungan itu.

"Biasanya penerbangan dari Halim menuju Pelabuhan Ratu di ketinggian 12.000 kaki dan standar minimum delapan ribu kaki, tapi Sukhoi ini terbang dari ketinggian 10 ribu kaki mengapa turun ke enam ribu kaki," kata Hari Purwanto di Makassar, Kamis (10/5/2021).

Menurut Hari Purwanto, ada tiga faktor penyebab jatuhnya sebuah pesawat, yaitu faktor cuaca, faktor kesalahan manusia, dan faktor kelaikan pesawat. Ia juga mengingatkan, Bandara Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu via Gunung Salak, bukan jalur penerbangan dan bukan area yang aman untuk penerbangan. Apalagi, untuk pilot yang tidak terlalu mengerti medan.

Pesawat Sukhoi yang telah dipesan penerbangan swasta Indonesia untuk penerbangan komersil itu, diakuinya sudah diuji di sejumlah negara lain sebelum diuji di Indonesia, seperti di Myanmar atau negara yang pasarnya terbuka bagi pesawat di luar Boeing, Airbus dan lainnya.

Menurut Hari Purwanto, di masa lalu semua pesawat yang akan digunakan di Indonesia harus melalui 'review' teknologi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), namun sejak satu dekade ini tidak dilakukan lagi.

Halimun dan Uniknya Gunung Salak


Kondisi kawasan Gunung Salak memang dikenal sebagai daerah yang sering berkabut. “Daerah sekitar Gunung Salak dan Halimun memang cenderung berkabut,” ungkap Adi Wibowo Dosen Geografi Universitas Indonesia. Kawasan hutan tropis di sekitar kedua gunung tersebut merupakan wilayah Taman Nasional Gunung Halimun yang merupakan kawasan hutan tropis terluas di Pulau Jawa.

Menurut sejarahnya Halimun diambil dari bahasa Sunda yang artinya kabut. Maka tidak heran jika kemudian kawasan ini sering kali diselimuti kabut tebal. Kondisi wilayah sekitar Gunung Salak dan Halimun memang tergolong unik. Di daerah tersebut terdapat potensi geothermal terbesar di Pulau Jawa. Selain itu, Gunung Salak juga memiliki beberapa puncak yang diantaranya merupakan puncak palsu. “Ketika mendaki gunung lain, dari manapun arahnya kita pasti bisa mencapai puncak utama, tapi hal seperti itu tidak terjadi di Gunung Salak,” tambah Adi yang pernah mendaki gunung tersebut.

Bagi para pendaki yang tidak hafal betul jalur pendakian menuju puncak Gunung Salak, ada kemungkinan mereka menggunakan jalur yang salah dan sampai pada salah satu puncak palsunya. Jika hal demikian terjadi, maka jalan satu-satunya menuju puncak adalah kembali turun dan mencari jalur utama menuju puncak. Kondisi puncak Gunung Salak ini juga menjadi salah satu kesulitan yang harus dihadapi pilot saat melakukan penerbangan di kawasan tersebut. Apalagi jika cuaca tidak mendukung, dan kabut membuat jarak pandang semakin terbatas.

Namun, diungkapkan Adi bahwa kejadian tersebut seharusnya tidak terjadi pada kecelakaan Sukhoi kemarin. Mengingat pesawat tersebut sudah dilengkapi oleh sistem navigasi yang memadai. Sehingga seharusnya ada radar yang bisa ditangkap oleh pesawat ketika terdapat tebing dalam jarak dekat didepannya. “Tapi bisa saja jenis batuan di kawasan Gunung Salak ini juga memang berpengaruh pada sistem navigasi pesawat, meskipun ini baru sebatas wacana,” tutur Adi yang sudah sempat berdiskusi dengan Rahmatullah (Pakar Penginderaan Jauh UI).

Adi menyampaikan pihaknya memang sempat menemukan keanehan di sekitar kawasan Gunung Salak ketika beberapa kali melakukan pendakian dan penelitian disana. Dia menuturkan,“Rekan saya dari FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) juga pernah mengalami kesulitan dalam penggunaan GPS disana”. Menurutnya data yang terbaca pada GPS di kawasan Gunung Salak sering kali berubah-ubah sehingga sulit ditentukan. Hal ini diduga karena sifat batuan daerah Gunung Salak yang tergolong unik. “Ada kemungkinan jenis batuan mempengaruhi gelombang elektromagnetik yang bekerja,” tambah Adi.

Namun hingga kini pihaknya belum bisa memastikan hal tersebut karena belum adanya penelitian lebih lanjut yang dilakukan. “Jika ada sponsor mungkin kita bisa melakukan penelitian tersebut, tapi hingga saat ini baru sebatas rencana,” ujar Adi menutup penjelasannya mengenai kondisi Gunung Salak.

Gunung Salak itu Angker, banyak pesawat hilang


Menurut Permadi, politikus yang nyambi jadi dukun paranormal, Gunung Salak dan sekitarnya merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sesuatu yang "khas" atau angker. "Angker. Wilayah itu jangan diganggu gugat," kata dia ketika dihubungi Tempo, Selasa, 15 Mei 2012.

Menurut Permadi, Indonesia memiliki banyak wilayah mistis seperti Gunung Salak. Salah satunya adalah Gunung Tengger di Jawa Timur. Wilayah semacam ini memang tak biasa dilalui atau disamakan dengan wilayah yang lain. Suka atau tidak suka, selayaknya pihak-pihak tertentu menghormati kepercayaan masyarakat daerah setempat.

"Tinggal kita mau percaya atau tidak. Tapi kepercayaan orang setempat memang tidak boleh buat main-main,"kata dia.

Terkait dengan kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Permadi menduga kuat ada peran kelalaian pilot dalam mengendalikan laju pesawatnya. Kemungkinan sang pilot melakukan manuver di kawasan mistis tersebut.

"Mungkin pilotnya merasa hebat, mantan astronot. Dia melakukan manuver dan akibatnya fatal," kata dia. "Memang bukan satu-satunya faktor. Mungkin alatnya atau teknologinya tidak sempurna," kata dia.

Faktanya, kata Permadi, cerita mistis bukan hanya sekali ini saja. Banyak kejadian kecelakaan dan hilangnya pesawat di sekitar kawasan Gunung Salak. Bahkan, keluarganya mempunyai pengalaman sendiri. Keponakannya yang menjadi salah satu instruktur di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Curug hilang bersama satu orang siswanya di kawasan itu sekitar lima tahun lalu.

"Hingga sekarang tidak ketemu. Bahkan, bangkai pesawat latihnya pun tidak (ketemu),"kata politikus Partai Gerindra itu mengenang.

Dede Yusuf, Wagub Jabar, berharap Gunung Salak tak jadi Jalur Penerbangan


Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf berharap agar para jenazah korban meninggal Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak dapat dimakamkan secara layak seperti jenazah yang meninggal secara normal.

" Pasti sangat berduka sekali yahh apalagi terjadinya di Bogor Jawa Barat namun kita berharap semua korban dapat dimakamkan secara layak apapun yah. Karena enggak punya data berapa sih, Bagi keluarga korban kami ucapkan belasungkawa sebesar-besarnya," katanya di Lobby Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat, Senin (14/5/2012).

Dede Yusuf berharap jangan ada tragedi jatuhnya Sukhoi untuk kedua kalinya, jangan sampai kembali timbulnya korban jiwa kecelakaan pesawat. Dede juga mengimbau agar maskapai penerbangan tidak melewati 3 pegunungan yaitu Salak-Halimun-Pangrango yang menurutnya jalur berbahaya untuk melintasnya pesawat terbang karena membentuk medan magnet yang dapat merusak komunikasi pesawat.

" Tetapi perlu tekankan untuk semua penerbangan memang wilayah itu kalau perlu jangan dilewatin. Banyak pesawat yang jatuh disana. Kami secara ilmiah sih belum tapi ada gunung Halimun yang paling gede, Salak dan Pangrango. Penerbangan ini membuat sebuah rules menghindari daerah itulah kira-kira . Ini saja Sukhoi yang super canggih seperti itu," terang Dede.

Tidak hanya penerbangan bahkan orang yang naik gunungpun juga sering tersesat jika melewati area tersebut.
"Yang mana para orang-orang yang mau naik gunung pun banyak yang hilang disana, GPSnya atau apa. Saya lihat kemarin wartawan juga ada yang ikut juga gitukan," katanya.

Pemda Jabar menurut Dede sudah cepat dan tanggap darurat menangani kecelakaan pesawat Sukhoi. " Sekarang Tim kita udah ada disana, baik Gegana kita, Pak Gubernur juga sudah menyiapkan dukungan yah baik itu materiil atau dukungan prasarana untuk ada disana, semua tim juga ada disana," katanya.

Mitos Seputar Gunung Salak


Daerah Gunung Salak saat ini menjadi daerah yang sering disebut dalam pemberitaan media dalam maupun luar negeri, terkait dengan menghilangnya pesawat Rusia jenis Sukhoi Super Jet 100, Rabu (9/5).

Gunung Salak, selain memiliki panorama yang indah, udara yang sejuk, juga banyak menyimpan misteri di dalamnya. Meski demikian, Gunung Salak menjadi salah satu lokasi favorit para pendaki gunung.
Secara administratif, Gunung Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di dalamnya terdapat Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
Nama Salak, bukanlah berasal dari nama buah, namun sesungguhnya Salak, berasal dari kata sansekerta 'Salaka' yang berarti perak.
Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Tercatat terjadi beberapa kali letusan sejak tahun 1600-an diantaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935.

Sementara itu letusan Gunung Salak terakhir berlangsung pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.

Gunung setinggi 2221 m di atas permukaan laut (dpl) tersebut memiliki beberapa puncak. Puncak tertinggi disebut Salak I setinggi 2211 m dpl disusul kemudian puncak Salak II setinggi 2180 m dpl dan puncak Sumbul setinggi 1926 m dpl.

Menurut masyarakat Sunda Wiwitan yang banyak menempati daerah seputar gunung tersebut, Gunung Salak merupakan tempat yang dianggap suci lantaran dipercaya sebagai tempat terakhir dari Prabu Siliwangi, pendiri kerajaan Padjajaran.

Karena dianggap keramat, tidak mengherankan jika sejumlah pendaki gunung kerap menemui para 'penziarah' yang datang untuk berdoa memohon berkah kepada para leluhur.

Ada yang menyebutkan pula, Gunung Salak merupakan lokasi tempat pernikahan antara manusia dan jin. Karena tidak mengherankan, jika menyusuri jalan menuju puncak, terdapat beberapa situs pemujaan hingga makam keramat yang dipercaya merupakan makam Embah Gunung Salak.

Selain itu, ada pula cerita yang menyebutkan, lantaran 'keangkeran' Gunung Salak, sehingga membuat lokasi itu dijadikan tempat penyimpanan harta Belanda berupa emas, saat menjajah Indonesia.

Menurut Pardi dan Ojey, warga sekitar yang ditemui Beritasatu.com, beragam kisah mistis kerap terjadi di Gunung Salak. Mitos-mitos seputar Gunung Salak secara turun temurun diceritakan pada keturunan warga sekitarnya.

"Terutama di kawasan kawah Ratu yang agak rawan. Racun yang muncul dari kawah sangat berbahaya jika terhirup dan dikenal sebagai kawasan yang 'haram untuk dilintasi," ujar Pardi dan Ojey bergantian cerita kepada Beritasatu.com saat memandu menuju lokasi jatuhnya pesawat.

"Karena sangat berbahaya maka tidak ada pesawat yang berani melintas secara tegak lurus melewati kawasan tersebut karena bisa berujung petaka," imbuhnya.

"Jangankan pesawat, burung saja yang terbang di atas kawah tersebut pasti jatuh," katanya, lagi dengan mimik yang jauh dari kesan bergurau.

Selain itu di beberapa bagian lereng seringkali terjadi longsoran yang dapat membahayakan para pendaki. Jurang-jurang di wilayah Gunung Salak terbilang terjal dan dalam dengan kedalaman berkisar 100 hingga 400 meter.

Menurut data, April 1987 silam, tujuh siswa STM Pembangunan, Jakarta Timur ditemukan tewas setelah terperosok ke jurang di Curug Orok yang memiliki kedalaman 400 meter di punggung gunung.

Terkait kecelakaan pesawat, tercatat Gunung Salak sudah memakan korban jiwa sejak 2004 silam. Menurut data, lima kecelakaan pesawat di kawasan Gunung Salak sudah terjadi, ditambah dengan jatuhnya pesawat canggih Sukhoi Super Jet 100, meggenapkan kisah tragis kecelakaan pesawat di wilayah Gunung Salak.

Lokasi ditemukannya puing-puing pesawat asal Rusia tersebut, tidak jauh dari lokasi ditemukannya bangkai pesawat pesawat Cassa 212 milik TNI AU yang jatuh pada JMuni 2008 yang menewaskan 18 orang penumpang serta awaknya.

Selain pesawat tersebut beberapa Pada 16 April 2004, pesawat Ultralight GT 500 ditemukan hancur dalam kecelakaan di daerah Gunung Salak. Sebelumnya Paralayang GT 500 Red Baron mengalami kecelakaan di wilahan Gunung Salak dengan korban dua orang meninggal dunia. Kemudian pada 20 Juni 2004 pesawat Sky Wagon 185 juga diberitakan mengalami kecelakaan. Selanjutnya pada April 2009, pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug juga jatuh di kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kabupaten Bogor.

Jauh sebelum ramai dibicarakan tentang wilayah Gunung Salak yang berbahaya untuk dilintasi, kecelakaan pesawat juga sudah terjadi. Pada 10 Oktober 2002, pesawat Trike bermesin PKS 098 juga jatuh di Lido, Bogor dengan satu orang korban tewas. Disusul kemudian pada 29 Oktober 2003, helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, yang masih berada di wilayah Gunung Salak.

Sukhoi Super Jet 100, semoga jadi Korban terakhir Gunung Salak




Tim SAR Sukhoi mimpi basah berjamaah di Gunung Salak


Sejumlah pendaki dan tim SAR yang ikut dalam pencarian Pesawat Sukhoi di Gunung Salak mempunyai pengalaman cerita magis. Mulai dari melanggar larangan memetik bunga hingga mimpi bersenggama dengan perempuan cantik.

Seorang yang tergabung dalam sebuah regu pada tim yang pertama kali diterjunkan ke Gunung Salak menceritakan pengalamannya saat berada pada ketinggian 1.700 kaki, pos terakhir tak jauh dari titik kordinat pesawat jatuh, Sabtu dinihari, 12 Mei. Ia dan sekitar sembilan anggota regu lainnya bermimpi aneh saat sedang tertidur.

"Kami mimpi basah secara bersamaan," kata dia.

Anehnya, dia melanjutkan, mimpi seluruh anggota regu cukup identik. Awalnya mereka bermimpi disambut seorang wanita cantik pada sebuah rumah di puncak gunung tersebut. "Perempuan itu menyuguhi kami air minum," kata dia bercerita.

Tak lama berselang, mereka langsung diminta untuk istirahat. Tetapi di dalam rumah, ternyata ada banyak perempuan yang tak kalah cantiknya dengan yang menyambutnya tadi. Setelah itu, para perempuan itu mencumbu mereka selayaknya suami istri.

Namun ia mengaku tak heran dengan peristiwa tersebut karena Gunung Salak terkenal dengan kisah magisnya. "Yah, kami memaklumi saja."

Cerita lain dari seorang pendaki yang pernah menjelajahi Gunung Salak. Kini ia bergabung dengan tim SAR sebagai sukarelawan pencari korban Sukhoi.

Menjelang pendakian, ia banyak berkonsultasi dengan masyarakat yang berada di sekitar gunung tersebut. "Banyak pantangannya," ujarnya.

Ia mengaku pernah menghiraukan pantangan penduduk untuk tidak mengambil bunga anggrek saat mendaki beberapa bulan lalu ke Gunung Salak. Maklum, kata dia, di sana banyak anggrek berbagai jenis yang cukup indah.

Tapi apa yang terjadi. Timnya tersesat saat ingin pulang. Sepanjang hari mereka hanya berputar di puncak Salak secara berulang sampai malam hari.

Anggrek itu pun di simpan di salah satu tempat, timnya kemudian shalat Isya.

Setelah salat timnya kembali melanjutkan perjalanan pulang. "Ternyata jalan pulang hanya ditutupi ranting padahal kami sudah beberapa kali lewat di depan ranting itu," ujarnya seraya menggeleng kepala.

Ia juga mengaku bertemu seorang nenek-nenek berusia sekitar 80 tahun di puncak gunung tersebut. Perempuan tua yang sudah bungkuk itu berjalan sendirian di sebuah padang dengan hanya memakai pakaian tipis.

"Kami tanya mau ke mana Nek, dia bilang hanya jalan-jalan," kata dia menirukan pernyataan nenek tersebut.

Saat ditanyai di mana tempat tinggalnya, wanita tua itu hanya menjawab,"Di sini Nak." Nenek itu menolak di antar ke kaki gunung. Pendaki ini melanjutkan, perempuan tua itu lalu bilang, "Saya senang di sini karena ramai bila malam, mereka sering kasih saya makan," tanpa menyebutkan siapa mereka yang dimaksud.

Yang mengherankan lagi, kata pendaki itu, si Nenek berbahasa Jawa kental, padahal mayoritas masyarakat di kaki gunung berbahasa Sunda. "Kami pun meninggalkan nenek itu sendirian," ujarnya.

Via Keunikan Gunung Salak yang tak Terungkap | Gunung Salak 'Kuburan' Pesawat Terbang | Gunung Salak itu Angker, Kata Permadi | Wagub Jabar: Pesawat Jangan Terbang di Kawasan Gunung Salak | Ada Apa dengan Gunung Salak? | Perempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung Salak
beberapa kumpulan misteri gunung salak
Ditulis oleh: Horizon Inspirasi pada 15 Mei 2012
Rating: 4.5
Judul: beberapa kumpulan misteri gunung salak ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

3 komentar :

Post a Comment