Monday, May 7, 2012

Putra Bungsu Guru Besar Unpar jadi Korban Perampok


Berita yang sangat menyedihkan ketika Harindaka Maruti (20) tewas ditembak oleh empat pencuri yang baru saja beraksi di rumah keluarganya, Jumat (20/4) siang. Korban adalah putra bungsu dari Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan, Koerniatmanto Soetoprawiro.

Hal ini menunjukkan betapa tingkat kejahatan meningkat dan kejahatan kriminal semakin tidak melihat siapa korban. Hanya demi kepentingan ekonomi bisa membunuh orang lain dengan semena-mena. Kejahatan yang sudah tak berperikemanusiaan lagi entah karena beratnya beban hidup atau karena tak ada lagi nilai-nilai kebaikan antar warga yang punya maupun yang tidak punya hingga terjadi kekejian yang teramat sangat.

Harindaka yang selalu disapa Hari meninggal dunia akibat luka tembak senjata laras pendek kaliber 22 di ketiak kanan yang tembus hingga badan sebelah kiri. Dia sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat RS Borromeus, Bandung, tetapi nyawanya tidak tertolong. Jenazah kemudian diotopsi ke RS Hasan Sadikin, Kota Bandung.

”Saya yakin pelakunya pasti tertangkap. Dia harus tertangkap sebagai pembuktian atas tindakannya,” kata Koerniatmanto sewaktu ditemui di UGD Borromeus, Jumat.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (20/4) sekitar pukul 13.00. Menurut kronologi dari petugas Kepolisian Resor Kota Besar Bandung, rumah Koerniatmanto dimasuki tiga pencuri sekitar pukul 10.00 dan kabur dengan membawa satu laptop dan uang 6.000 dollar AS. Saat peristiwa terjadi, rumah sedang kosong, sementara pembantu sedang berada di warung yang terletak tidak jauh dari rumah. Pembantu hanya sekilas melihat kawanan pelaku yang kabur seusai beraksi.

Hari dan kakaknya, Danandaka Mumpuni (25), yang datang setelah mendapat laporan pembantu rumah, berinisiatif mengejar pelaku menggunakan sepeda motor. Sekitar pukul 13.00, mereka mendapati seseorang yang membawa tas laptop yang mirip dengan milik mereka yang hilang, berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Hari langsung mengonfrontasi mereka.

Dalam pergumulan itu, tiba-tiba salah satu dari pelaku mengeluarkan pistol dan menembaki Hari sehingga Hari jatuh tersungkur. Kakaknya langsung mengangkat tangan sehingga tidak sampai mengalami nasib serupa. Sepeda motor yang dibawa Hari juga dirampas pelaku karena salah satu sepeda motor pelaku tidak bisa dijalankan.

Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso mengatakan, pihaknya mewaspadai peningkatan aktivitas pencuri spesialis yang mengincar rumah kosong seperti milik Koerniatmanto. Dia berjanji mengintensifkan patroli kepolisian di tingkat polres maupun polsek.

Penggunaan senjata api dalam aksi kriminalitas tersebut hampir mirip dengan kejadian yang berlangsung sehari sebelumnya, Kamis (19/4). Seorang istri perwira TNI yang ditembaki perampok yang mengincar uang sebesar Rp 200 juta yang dibawanya. Anehnya, kejadian tersebut masih berlangsung di dalam kompleks perumahan militer.

Abdul Rakhman memastikan bakal mengevaluasi peredaran senjata api gelap di Kota Bandung. ”Berdasarkan selongsong peluru dari dua kejadian itu, senjata yang digunakan dipastikan beda jenisnya,” ujarnya.

Keluarga Terguncang


Meninggalnya Hari membuat keluarga Koerniatmanto terguncang. Korban tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2010 pada Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Ruang tunggu UGD RS Borromeus dipadati para kerabat Koerniatmanto maupun teman kuliah Hari yang datang menyatakan ungkapan belasungkawa. Mereka mengecam keras tindakan kriminalitas itu dan mendesak polisi menangkap pelaku.

Istri Koerniatmanto, Ny Theodora Suwinarni, dikerubuti kerabat yang berusaha menghiburnya. Koerniatmanto mendampingi pemeriksaan jenazah Hari di ruang resusitasi hingga menuju RSHS. Danan, kakak korban, berada di rumah karena dimintai keterangan polisi.

Rumah Koerniatmanto, Guru Besar Ilmu Hukum Tatanegara Unika Parahyangan, yang kebobolan pencuri, ternyata merupakan rumah tanpa pagar. Rumah tersebut berbeda dengan tetangganya yang sudah memasang pagar di depan rumahnya.

Berdasarkan pemantauan Kompas, Jumat (20/4/2012), rumah Koerniatmanto yang terletak di Jalan Cigadung Endah tidak memasang pagar di depan rumahnya. Rumahnya terlihat kontras bila dibandingkan dengan rumah di seberangnya dengan pagar tinggi. Dari jalan menuju rumah, selain ke pintu depan juga bisa melalui garasi yang ditutup dengan pintu kayu.

Rumah Koerniatmanto dibobol sekawanan pencuri berisi empat orang dan membawa kabur satu unit laptop dan uang dollar sebesar 6.000 USD. Akibat kejadian tersebut, anak bungsunya, Harindaka Maruti (20) berinisiatif mengejar pelaku tapi malah tewas karena ditembak pelaku yang mempertahankan barangnya.

“Desain awal perumahan di sini memang tanpa pagar, tapi lambat laun tetangga mulai memasang pagar,” ujar pengajar di UK Parahyangan, Asep Warlan Yusuf yang tinggal tidak jauh dari sana.

Disinggung mengenai kondisi rumah Koerniatmanto, Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso, tidak menyalahkan pemilik rumah. Dia hanya meminta agar tenaga pengamanan rumah lebih intens menggelar patroli di sekitar rumah.

Aparat kepolisian dikabarkan menahan empat orang pelaku yang diduga terlibat dalam penembakan Harindaka Maruti (20). Dia adalah anak bungsu dari Guru Besar Ilmu Hukum Tatanegara Universitas Katolik Parahyangan, Koerniatmanto Soetoprawiro.

Hingga berita diturunkan, Bidang Humas Polda Jawa Barat mengumumkan bahwa mereka akan menunjukkan pelakunya di Mapolda Jabar siang ini.

Harindaka meninggal dunia setelah ditembak pencuri yang baru saja membobol rumahnya dan membawa lari satu unit laptop dan uang asing 6.000 USD tanggal 20 April 2012. Dia ditembak saat merebut tas laptop dari pelaku.

Saat dilarikan ke UGD Santo Borromeus, nyawanya tidak tertolong. Polda Jawa Barat menunjukkan empat tersangka kasus pencurian disertai penembakan terhadap Harindaka Maruti pada tanggal 20 April 2012. Mereka adalah kawanan pencoleng yang sudah sering beraksi.

Inisial empat pelaku itu adalah HDR, MEI, ARD, dan AN. Semuanya mengenakan penutup kepala dan salah satu diperban kakinya. Masih ada tiga nama yang masih diburu, yaitu RZ, SRF, dan KK.

Dari tangan pelaku, kepolisian menyita dua pucuk senjata api, yaitu berjenis revolver dan FN. “Kami masih harus menjalani uji terlebih dahulu untuk memastikan apakah senjata tersebut rakitan atau organik,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul, Kamis (3/5/2012).

Berdasarkan penuturan para tersangka, RZ adalah orang yang diduga menghabisi Harindaka. Para pelaku ditangkap dari Palembang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung.

MEI, salah satu tersangka pencuri rumah Koerniatmanto Soetoprawiro, mengatakan, penembakan terhadap Harindaka dia lakukan karena putra bungsu Koerniatmanto itu bersikeras merebut tas laptop dari tangan temannya. Hariandaka pun ditembak hingga roboh bercucuran darah.

Demikian dikatakan MEI saat digelandang di halaman Mapolda Jawa Barat, Kamis (3/5/2012). Dia ditangkap bersama tiga tersangka lainnya, yaitu HDR, ARN dan AN.

“Apa hak kamu buka tas kami,” ujar MEI menirukan perkataan komplotan saat Harindaka berupaya merebut tas laptopnya.

Dia mengungkapkan, HDR dan RZ yang kini masih buron kemudian menodongkan pistol ke arah Harindaka, meminta agar dia menyerah. Sayangnya dia tetap maju sehingga salah satu pistol itu akhirnya menyalak dan pelurunya menembus ketiak kanan hingga tembus ke tubuh sebelah kiri.

MEI beralasan, menembak Harindaka terpaksa dilakukan. Kalau tidak, mereka bakal tertangkap.

Polisi tembak Kaki Pelaku


Mei (29) alias Iis, satu dari 4 pelaku kawanan pencurian disertai penembakan yang menewaskan Harindaka Maruti (20), putra bungsu Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan, Profesor Koerniatmanto Sutoprawiro, terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas di betis kirinya.

Iis pelaku terakhir dari 4 pelaku yang ditangkap petugas gabungan Polda Jabar dan Polrestabes Bandung di Jalan Veteran, Palembang sekitar pukul 23.00 WIB, Selasa (1/5/2012) lalu. Sebelumnya, selang sekitar 2 jam, petugas menangkap Hendra (28), tak jauh dari lokasi tersebut.

Iis berperan selain masuk ke dalam rumah Guru Besar Unpar mengambil sejumlah barang waktu itu. Juga mengemudikan motor Mio Soul bernopol D 3159 GO yang dikendarainya membonceng Reza ditinggalkan di TKP karena mogok.

"Yang ngajakin (merampok) Reza (DPO). Saya perannya bawa motor Mio yang mogok. Dia (Harindaka) melawan, malah mau ngambil tas punya dia yang dibawa Reza. Dia mau merebut tas laptop sambil bilang sama kita, kamu nggak ada hak. Reza turun ngeluarin pistol dan langsung nembak (Harindaka)," ujar Iis saat dimintai keterangan di Mapolda Jabar, Kamis (3/5/2012).

Diberitakan sebelumnya, Polrestabes Bandung didukung Polda Jabar berhasil menangkap pelaku penembakan putra bungsu Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan di tiga TKP berbeda.

Penangkapan berawal dari pengembangan barang bukti sepeda motor yang ditinggalkan Iis di TKP. Polisi memulai penyelidikan hingga sampai menangkap keempat pelaku tersebut.

Urutan pelaku penangkapan Amirudin (30) di Pangalengan, Alam (32) di Garut, Hendra (28) dan MEI alias Iis (29) di Palembang.

Polisi masih mengembangkan kasus ini, tiga orang masuk daftar pencarian orang (DPO). Satu diantaranya Reza yang diduga melakukan penembakan dengan alasan takut tertangkap.

Barang bukti yang diamankan 2 jenis senpi menyerupai FN dan Revolver serta sejumlah barang lainnya. Senpi diduga rakitan dan akan segera diuji balistik.

via Polisi Tembak Kaki Pelaku Pembunuh Anak Guru Besar Unpar
Putra Bungsu Guru Besar Unpar jadi Korban Perampok
Ditulis oleh: Horizon Inspirasi pada 7 Mei 2012
Rating: 4.5
Judul: Putra Bungsu Guru Besar Unpar jadi Korban Perampok ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

0 komentar :

Post a Comment