Thursday, April 5, 2012

Bensin Premix mungkin akan diproduksi lagi


Bukan hanya Inggris yang kesulitan mengatasi masalah BBM. Amerika pun tidak kalah kesulitan. Maklum karena mereka tidak memiliki kekayaan minyak, Amerika mungkin masih menyimpan lahan-lahan tambang di Texas atau daerah lain yang memiliki banyak minyak. Sudah saatnya memnang memikirkan energi bentuk lain, sementara energi nuklir masih menjadi barang baru yang ditakuti, kecuali Iran yang lebih cerdas. Khawatir memang sedang ada dimana-mana, regulasi ekonomi yang memunculkan ketidakpastian baru, seperti kekayaan perusahaan Apple, Inc yang bisa untuk menalangi keterpurukan negara Yunani, adalah contoh buruk ketimpangan dunia yang sebenarnya. Atau juga laba Apple, Inc yang berimbas pada jumlah tingkat bunuh diri di China atau di perusahaan FoxConn yang sampai jendela-jendela balkoninya harus dikasih pengaman.

Visi pemerintah memang tidak boleh hanya sejauh 2 kali periode masa jabatan Presiden, namun harus lebih jauh dan menjadi kebijakan yang menjadi cita-cita bangsa semuanya dan dipahami bersama segenap para gurita atau cumi-cumi birokrasi. Kepemilikan dan aset nasional harus menjadi tonggak utama pendapatan negara, bukan dari pajak yang tinggi dan menjerat leher rakyat kecil.

Membengkaknya subsidi adalah keniscayaan. Subsidi tidak bisa diartikan dengan kewajiban atau hutang, namun adalah hak yang harus diberikan negara untuk warganya sebagai kompensasi dan pertanggungjawaban atas pengelolaan sumberdaya nasional. Sungguh memalukan ketika negara harus melaporkan anggaran pendapatan dan belanja negara dalam bentuk negatif atau defisit. Karena banyak warga negara dan perusahaan-perusahaan tingkat elite yang meraup keuntungan lebih bahkan bisa jadi menyaingi pendapatan negara.

Kekhawatiran akan membengkaknya subsidi menuntut pemerintah untuk terus mencari opsi. Selain rencana pembatasan konsumsi, kini kembali muncul opsi menyediakan BBM alternatif dengan harga di atas premium, tetapi di bawah pertamax.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengatakan, BBM alternatif tersebut bisa menjadi pilihan bagi para pemilik mobil yang berkeberatan membeli pertamax karena harganya yang kini sudah mencapai Rp10.200 per liter. ”BBM jenis premix ini bisa dijual seharga Rp7.200 per liter,” ujarnya kemarin.

Menurut Widjajono, dengan harga tersebut, kualitas premix akan berada di antara premium dan pertamax. ”Jadi, RON (research octane number, Red)-nya 90,” jelasnya. Sebagai gambaran, BBM jenis premium memiliki RON atau angka oktan 88, pertamax mempunyai RON 92, dan pertamax plus memiliki RON 95.

Widjajono mengatakan, opsi BBM premix itu bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tingginya konsumsi BBM subsidi oleh mobil pribadi, namun subsidi yang diberikan pemerintah tidak sebesar premium.

Dengan harga minyak saat ini, lanjut dia, harga keekonomian premium mencapai Rp8.500 per liter. Dengan begitu, untuk setiap liter premium, pemerintah harus menyubsidi Rp4.000. ”Kalau premix, mungkin subsidinya hanya sekitar Rp2.000 per liter,” ucapnya.

Menurut Widjajono, premix bisa menjadi opsi bagi masyarakat yang selama ini sering mencampur pertamax dan premium untuk menekan belanja BBM. Kualitas BBM untuk mesin pun lebih bagus. ”Jadi, produk ini, sepertinya, akan diminati,” ujarnya.

Dari sisi pasokan premix, lanjut Widjajono, Pertamina punya cukup kemampuan untuk memproduksi premix. Pasalnya, saat ini Pertamina sudah biasa memproduksi premium, pertamax, maupun pertamax plus sehingga untuk memproduksi premix, tinggal ditambahkan beberapa zat aditif. ”Itu kan hanya perlu di-blend (dicampur, red), sudah jadi,” tuturnya.

Namun, opsi penyediaan premix itu, rupanya, masih membutuhkan waktu karena harus melalui pembahasan di DPR. Anggota Komisi VII DPR Satya W. Yudha mengatakan, karena masih menggunakan unsur subsidi, pemerintah harus berkonsultasi dahulu kepada DPR sebelum mengeluarkan premix.

”Sebab, subsidi Rp225 triliun dalam APBNP 2012 itu sudah ada alokasinya. Jadi, tidak bisa digunakan untuk keperluan selain menyubsidi premium, solar, kerosin, dan LPG 3 kilogram,” jelasnya.

Merancang Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Kebijakan energi Indonesia mendapat sorotan tajam dari Bank Dunia. Batalnya rencana kenaikan harga BBM subsidi diproyeksikan bakal menurunkan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia Shubham Chaudhuri mengatakan, batalnya kenaikan harga BBM membuat pemerintah akan memangkas pos-pos belanja produktif untuk menutupi kebutuhan beban subsidi hingga lebih dari Rp200 triliun. ”Akibatnya, potensi pertumbuhan ekonomi akan turun. Padahal, tahun ini seharusnya Indonesia bisa tumbuh hingga tujuh (persen) plus,” ujarnya dalam acara Indonesia Economic Quarterly Report yang diselenggarakan Paramadina Public Policy Institute kemarin.

Sebagaimana diketahui, dalam APBNP 2012, pemerintah dan DPR sepakat menurunkan target pertumbuhan ekonomi dari 6,7 persen dalam APBN 2012 menjadi 6,5 persen. Menurut Shubham, revisi target tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan jika pemerintah Indonesia bisa me-manage anggaran dengan baik. Salah satunya adalah mengurangi anggaran pos subsidi dan menambah anggaran pos pembangunan infrastruktur. ”Jika sebagian subsidi BBM digeser untuk pembangunan infrastruktur, Indonesia tidak kesulitan untuk tumbuh tujuh persen tahun ini,” ucapnya.

Shubham mengungkapkan, Indonesia memiliki segalanya untuk melesat. Mulai jumlah penduduk yang sangat besar, potensi sumber daya alam, stabilitas moneter, hingga fiskal yang cukup sehat.
Dari sisi fundamental, lanjut Shubham, ekonomi Indonesia cukup kuat. Itu tecermin dari naiknya rating kredit oleh Fitch dan Moody’s yang menempatkan Indonesia di level investment grade.

Selain itu, pertumbuhan domestik sepanjang kuartal IV 2011 yang mencapai 6,5 persen bisa menjadi landasan yang kuat untuk melajunya perekonomian Indonesia di 2012. ”Tapi, jika kebijakan belanja tidak tepat, kami memproyeksikan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 6,1 persen pada tahun ini,” ucapnya.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) yang juga Koordinator Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Suahasil Nazara mengatakan, dipangkasnya anggaran belanja produktif karena digeser ke belanja subsidi bisa makin mengerem pertumbuhan ekonomi jika proses penyerapan anggaran masih seperti tahun-tahun sebelumnya. ”Tiap tahun polanya sama, belanja baru digenjot pada akhir tahun,” ujarnya.

Menurut Suahasil, keberhasilan APBN sebagai motor penggerak ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran di pos-pos tertentu, namun juga ditentukan oleh ketepatan waktu penggunaan anggaran. ”Jika pemerintah ingin mendorong ekonomi lebih tinggi, penyerapan anggaran harus diperbaiki,” tegasnya.

One Single Document

Pemerintah terus merumuskan langkah implementasi APBNP 2012. Selain upaya penghematan energi untuk mengatasi membengkaknya subsidi karena ditundanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), pemerintah menyiapkan langkah untuk meningkatkan penerimaan negara.

”Ini yang kami lakukan dan itu nanti akan dibundel dalam satu kebijakan yang dibuat, one single document,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa seusai rapat terbatas di kantor presiden kemarin. Kebijakan baru tersebut akan dituangkan dalam bentuk instruksi presiden (inpres).

Hatta menjelaskan, selain penghematan energi, pemerintah akan menghemat penggunaan anggaran pada kementerian/lembaga (KL). Meski begitu, pemerintah tetap mendorong pertumbuhan ekonomi. ”Minimal pada angka 6,5 persen, dengan menjalankan program-program stimulus,” ujarnya.

Sumber
Bensin Premix mungkin akan diproduksi lagi
Ditulis oleh: pada 5 April 2012
Rating: 4.5
Judul: Bensin Premix mungkin akan diproduksi lagi ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

1 komentar :

Post a Comment