Sunday, January 29, 2012

berkomunikasi dengan balita



Sepuluh cara untuk berkomunikasi dengan balita, dari berbagai sumber. Baik untuk diterapkan sebagai referensi berkomunikasi dengan anak balita anda. Gunakan dan praktekan secara bijaksana. Sebagai referensi dan pastinya banyak pengalaman berbeda yang berlainan untuk bisa di bagikan:
  1. Arahkan untuk berpandangan
    Buat agar adik bayi merespon panggilan dan pembicaraan dengan menoleh dan menatap. Ajari untuk fokus, dengan ajakan dan kata-kata yang mengajaknya untuk berinteraksi
  2. Sejajarkan dan curi perhatiannya
    Jangan terlalu jauh karenan pandangan mata bayi sedikit demi sedikit baru berkembang. Dekati dan beritahu jika anda ada di situ. Sentuh badannya untuk mendapatkan perhatiannya.
  3. Kontak mata
    Usahakan selalu terjadi kontak mata sebagai bentuk perhatian dan interaksi yang sebenarnya. Semua orang pasti akan merasa dekat ketika terjadi kontak mata dan pembicaraan akan menjadi terasa sebagai dialog. Begitupun dengan bayi anda.
  4. Bermain peran
    Gunakan tools, atau boneka untuk mengajaknya bermain peran memperhatikan dan mempelajari interaksi baik diri sendiri ataupun dengan orang lain. Mainkan drama dengan menggunakan boneka atau apapun yanga ada. Sehingga ada perhatian dan pengetahuan bahwa di dunia ada banyak hal yang perlu diperhatikan
  5. Bimbing untuk Fokuskan perhatian
    Konsentrasi adalah hal penting untuk diajarkan. Namun konsentrasi yang terus menerus dan melupakan sekitar juga hal yang tidak baik. Ajari anak anda untuk berkonsentrasi namun ketika di panggil juga mau menengok, dan memperhatikan.
  6. Beri penjelasan
    “Adik, lihat Bunda dong kalau diajak bicara?!” Anda sering mengucapkan kalimat ini ketika si kecil tak juga memerhatikan Anda. Berhasil?
    Tidak selalu! Ia bosan mengapa harus menatap Anda ketika berbicara dengan Anda. Dia tidak tahu kenapa itu harus dilakukannya. Anda perlu memberikan penjelasan mengapa Anda mengharapkan si kecil menatap Anda. Lengkapi kalimat “Lihat, Bunda dong” dengan “Lihat Bunda dong, karena kamu perlu melihat ini adalah mainan yang harus kamu bereskan.”
    Jelaskan pula bahwa menatap orang yang sedang berbicara merupakan bentuk penghargaan dan bersikap santun kepada orang tersebut.
  7. Ketahui kemampuan pemahaman anak
    Setiap anak punya kemampuan pemahaman yang berbeda-beda. Ada yang sudah paham bila Anda bertanya “Alasan apa yang membuat kamu melakukan itu?” Namun, ada juga yang baru bisa paham bila Anda bertanya “Adik, Bunda ingin bertanya, kamu tadi kenapa membuang gelas-gelas itu?”
    Alasan anak tidak menatap Anda ketika diajak berbicara, bisa saja karena dia tidak paham kepada siapa Anda bicara dan Anda bicara tentang apa. Gunakan kalimat pendek, dan sederhana sebab kemampuan konsentrasi anak usia 2-3 tahun masih belum berkembang sempurna.
  8. Pilih momen
    Menunggu momen yang tepat untuk berbicara dengan orang lain, termasuk si kecil, merupakan cara yang jitu. Orang dewasa saja tidak mau diganggu bila sedang asyik dengan aktivitasnya, begitu juga anak. Jika Anda bisa menunggu dia hingga tidak terlalu sibuk, mengapa tak menunggu? Kalau anak sudah selesai dengan aktivitasnya, mudah untuk Anda mengajaknya berbicara berhadapan.
    Untuk mengetahui, mulailah pendekatan terlebih dahulu sebagai bentuk interupsi. Cara ini membuat anak memiliki persiapan untuk menghentikan aktivitasnya.
  9. Minta tolong
    Percaya dengan salah satu dari 6 huruf ajaib, “TOLONG”? Coba, katakan “Tolong...” ketika berbicara pada anak sebelum mengemukakan kalimat perintah. Si kecil niscaya tidak merasa dipaksa dan diperintah sehingga ia tidak lagi mengulang perilaku tidak mau melihat, sebagai bentuk atau cara pura-pura tidak mendengar ucapan Anda.
    Cara ini sekaligus mengajarkan anak bagaimana bersikap santun.
  10. Beri contoh
    Mengajarkan bagaimana mendengarkan dan menatap si pembicara butuh contoh konkret. Jika anak merasa didengar dan ditatap ketika sedang berbicara, ia akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik atau merespons sumber pembicara.

Judul: berkomunikasi dengan balita ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

0 komentar :

Post a Comment