Friday, March 9, 2012

Remembering Ki Manthous (1950 -2012) #RIPManthous

Remembering Ki Manthous (1950 -2012)




Nama Asli Ki Manthous adalah Anto Sugiyarto. Manthous lahir di Desa Playen, Gunung Kidul pada tahun 1950. Ketika berusia 16 tahun, Manthous memberanikan diri pergi ke Jakarta. Pilihan utamanya adalah hidup ngamen, yang ia anggap mewakili bakatnya. Namun, pada tahun 1969 dia bergabung dengan orkes keroncong Bintang Jakarta pimpinan Budiman BJ. Kemudian, pada tahun tahun 1976, Manthous yang juga piawai bermain bas mendirikan grup band Bieb Blues berciri funky rock bersama dengan Bieb anak Benyamin S. Bieb Blues bertahan hingga tahun 1980. Kemudian, Manthous bergabung dengan Idris Sardi, dalam grup Gambang Kromong Benyamin S. Selain itu, sebelumnya ia pernah juga menjadi pengiring Bing Slamet ketika tampil melawak dalam Grup Kwartet Jaya.

Musik “campur sari gunung kidul” pertama kali di rekam pada tahun 1989, sebetulnya Manthous bukanlah satu-satunya orang yang memiliki gagasan untuk menggabungkan alat musik gamelan dengan alat musik lain, Pada 1976 – 1978. Radio Orkes Semarang, dan Orkes Bintang Surakarta mulai membuat aransemen lagu langgam jawa yang dicampur dengan peralatan gamelan. Lagu-lagu yang mereka hasilkan pun telah direkam antara lain oleh perusahaan rekaman IRA Record di Semarang. Namun istilah campur sari pada waktu itu belum dipergunakan.

Pada tahun 1993, Manthous mendirikan Grup Musik Campursari Maju Lancar Gunung Kidul. Garapannya menampilkan kekhasan campursari dengan langgam-langgam Jawa yang sudah ada. Ada warna rock, reggae, gambang kromong, dan lainnya. Dengan gamelan yang diwarnai keyboard dan gitar bas. Bersama grup musik yang berdiri tahun 1993 dan beranggotakan saudara atau rekan sedaerah di Playen, Gunungkidul, Yogyakarta itu, Manthous menyelesaikan sejumlah volume rekaman di Semarang. Omzet penjualan mencapai 50.000 kaset setiap volume, tertinggi dibanding kaset langgam atau keroncong umumnya pada tahun-tahun pertengahan 1990-an.Di samping menyanyi sendiri dalam kegiatan rekaman itu Manthuos juga menampilkan suara penyanyi Sulasmi dari Sragen, Minul dari Gunungkidul, dan Sunyahni dari Karanganyar.





Berita di KR Jogja:

GUNUNGKIDUL (KRjogja.com) - Sumanto atau yang kondang dengan nama Manthous, maestro musik campur dari Gunungkidul tutup usia, Jumat (9/3) pagi. Manthous meninggal dunia dalam usia 60 tahun setelah menjalani perawatan medis di salah satu rumah sakit di Jakarta akibat serangan penyakit stroke yang telah dideritanya bertahun-tahun.

Jenazah pimpinan Group Campur Sari Gunungkidul (SCGK) ini rencananya akan dibawa dari Jakarta siang nanti sekitar pukul 13.00 WIB dengan perjalanan darat dan tiba di rumah duka di Desa Playen, Kecamatan Playen, Gunungkidul sekitar malam hari. Jenazah disemayamkan di rumah duka terlebih dahulu untuk kemudian rencananya akan dimakamkan di makam desa setempat, Sabtu (10/3) besok.

Nama Manthous mulai besar sekitar tahun 1995 dengan lagi-lagu serta musik campur sari yang diciptakannya. Dengan musik ini pula kemudian Kabupaten Gunungkidul cukup dikenal seantero tanah air sebagai tempat lahirnya musik Jawa modern. Lagu-lagu seperti ‘Rondho Kimpling’, ‘Tiwul Gunung Kidul’, ‘Mbah Dukun’ dan beberapa lagu lainnya sangat akrab di telinga pendengar dengan suara khas yang dilantunkan Manthous. (Ded)












Catatan tentang ki Manthous dari Web Taman Budaya Yogyakarta:

Anto Sugiyarto nama pemberian orangtuanya (Wasiat Asma) Suyadi Wiryo Atmojo yang bertempat tinggal di Gunung Kidul.Anto Sugiyarto hanya diambil dari Anto dan jadilah sebuah nama panggilan.Dan berkat ketenarannya dalam bidang music,lama kelamaan nama itupun berubah,mendapat awalan,imbuhan dan akhirnya yaitu MANTHOUS yang sampai sekarang menjadi nama panggilan yang akrab dan tenar.Setelah Manthous menikah,dikaruiai 4 orang putra putri.Saat ini Manthous berkiprah sebagai seniman music Campur Sari.Semua kehidupan perekonomian dihasilkan dari dunia music dan Canpur Sari yang sekarang baru naik daun.

Manthous,bukan lulusan atau alumnus dari sebuah perguruan tinggi seni atau lembaga kesenian(formal).Manthous menekuni seni melalui bakat yang ada dan didorong oleh kemauan yang keras sehingga bisa mewujudkan cita-citanya menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa dan dunia seni pada khususnya.

Manthous tahun 1968 hijrah ke Jakarta mengadu nasib sebagai pemain Orkes keroncong.Sekolahnya pun putus ditengah jalan .Ia minta surat pindah ke SMA di Jakarta,dan di Jakarta ternyata jiwa seninya lebih diunggulkan daripada sekolahnya.Sekolahnya tidak tamat hanya,sampai kelas II saja.Tahun 1970 Manthous bergabung dengan Orkes Keroncong Bintang Jakarta yang dipimpin Budiman.Pada saat itu,mereka mencoba membuat semacam music Campur Sari yang masih bersifat eksperimen dan ternyata belum berhasil.Kegagalan itu tidak menyurutkan semangat untuk eksperimen.Pengalaman demi pengalaman dibuatnya sebagai pelajaran yang sangat mendukung dalam proses berkeseniannya.Pada tahun 1971/1972 bersama Budiman,Manthous mencoba membuat music Gambang Kromong Modern dengan penyanyi Budiman S.(Alm) dinyanyikan secaraduet dengan Ida Royani dan Inneke Kusumawati.Dan ternyata music ini sempat meledak di pasaran dan sangat laris serta banyak penggemarnya.

Dan tahun 1971 Manthous mulai menekuni dunia recording di Musica Studio bersama A.Riyanto.Tahun 1976 Manthous mulai membuat music pop band.Dan music pop band ini untuk mengiringi penyanyi Benyamin S(Alm) pentas ke seluruh Indonesia.Dirasa sangat kurang apabila hanya menekuni dalam bidang music pertunjukan saja,maka pada tahun itu juga Manthous mulai menggarap music untuk ilustrasi film.Disini Manthous mendapat pengalaman/pelajaran tentang pembuatan music film dan berbagai jenis karakter film dan bermacam-macam jenis film.Tahun 1980 Manthous bersama Charles Hutagalung membuat home band Flouwer Sound Recording.

Setelah sukses dengan lagu yang bersifat humor,tahun 1987 Manthous mulai mengaransemen lagu pop berirama kroncong dengan penyanyi Hety Koes Endang.Tahun 1990 Manthous bersama Rinto Harahap membawa music pop keroncong pergo ke Tokyo Music Festifval selama sepuluh hari dan pentas berkeliling di Jepang.Tahun 1991 musik Pop Keroncong pimpina Manthous mengikuti PAN PACIFIK MUSIC FESTIVAL (Super Ladies to Gether) bersama penyanyi Hety Koes Endang dan juga artis-artis dan musisi dari Amerika,Jepang dan Australia.Tahun 1993,Manthous berangkat ke Amerika bersama Tim Pesona dengan coordinator Ny.Isti Dari Sofia menghibur masyarakat Indonesia di Los Angeles dan Las Vegas selama 15 hari.

Pada tahun itu juga Manthous bersama adik-adiknya membuat Musik Campur Sari dengan format baru.Dalam music Campur Sari ini instrumen celo diganti dengan instrument kendhang.Semua lagu yang dicipta Manthous tidak lepas dari konsep dasar.Disamping untuk mencari jatidirinya,dalam sebuah music Campur Sari juga dicipta atas dasar aspek sosial.Manthous menggeluti dunia seni sebagai profesi.Profesi ini sudah melekat dengan jiwa raganya.Lagu-lagu ciptaan Manthous banyak menembus pasaran music dan menjadi terkenal.Diantaranya mendapat penghargaan.

Pada tahun 1996 Manthous terpilih sebagai Seniman Inovatif.Pemilihan sebagai Seniman Inovatif ini dipilih oleh Seksi Budaya dan Film PWI Cabang Yogyakarta.Pada tahun yang sama Manthous mendapat penghargaan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam acara Gelar Budaya Rakyat 1996 di Kota Yogyakarta.Dan juga banyak penghargaan seni baik dari produser maupun instansi terkait.Tahun 1999 Manthous mendapat Penghargaan Seni dari Pemda Propinsi DIY.Kepulangannya tahun 1997 ke Wonosari ikut memajukan daerah asalnya melalui dunia kesenian,khususnya Campur Sari.

Manthous adalah sosok panutan dalam dunia music Campur Sari yang kini sedang berkembang di Yogyakarta.Dan semua bentuk Campur Sari yang ada ternyata bersumber dari karya-karya Manthous,baik itu penggarapan,kendhangan dan isian-isian yang lain.Semua itu demi kemajuan dan kemarakan dunia Campur Sari yang sedang berkembang.

Source :
Foto : Tembi
Judul: Remembering Ki Manthous (1950 -2012) #RIPManthous ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

2 komentar :

Post a Comment