Thursday, March 1, 2012

Wanda Hamidah, sekelumit tentang mimpi Jakarta

Wanda Hamidah, sekelumit tentang mimpi Jakarta
Wanda Hamidah, perempuan kelahiran Jakarta 21 September 1977 itu, mulai tertarik ke politik sejak kuliah. Wanda adalah salah seorang yang aktif dalam gerakan mahasiswa menuntut rezim orde baru turun dari panggung kekuasaan pada tahun 1998. Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia politik dan bersedia menjadi calon legislator pada 2009 ini, Wanda Hamidah ternyata membutuhkan waktu yang tidak singkat. Mantan model ini, perlu waktu sepuluh tahun. “Ya karena saya tidak ingin menjadi politisi instan. ” tuturnya.

Tahun 1999, Wanda mulai terjun aktif ke politik praktis. Menjadi pengurus sebuah partai. Meski begitu, Wanda tidak langsung mencalonkan diri sebagai calon wakil rakyat.

Ia mengaku, masih perlu banyak belajar. Sebab, menurutnya, untuk menjadi seorang wakil rakyat tidak cukup hanya berbekal terampil beretorika, apalagi mengandalkan kepopuleran. “Memahami filosofi sebuah kekuasaan bagi rakyat, mengetahui secara persis kenyataan apa yang dialami rakyat dan bagaimana seharusnya adalah mutlak. Dan itu tidak bisa datang tiba-tiba, butuh waktu,” paparnya.

Begitu pun di saat orang ramai membicarakan aksi afirmatif untuk keterwakilan perempuan sebesar 30 persen, Wanda justeru bersikap santai. “Aksi itu memang harus ada. Artinya untuk mendorong peran perempuan. Karena selama ini, dunia politik dianggap hanya sebagai dunia para laki-laki. Budaya kita masih patriakal,” ujarnya.

Hanya memang, ia menilai, saat ini waktunya tak tepat. Sebab, beberapa waktu lalu, Mahkamah Konstitusi menetapkan calon terpilih berdasar suara terbanyak. Sehingga persaingan bebas pun terjadi.

“Orang berjuang all out, mati-matian, nah kalau kebetulan yang memperoleh suara terbesar semuanya laki-laki. Lalu apa saya harus saya gantikan? Kalau pun ada tawaran saya tidak akan menerimanya,” tandasnya.

Bagi Wanda, masih dibutuhkan waktu untuk sosialisasi sehingga bisa diterima semua pihak. Lebih dari itu, ia ingin benar-benar bersaing secara sehat dengan sistem, aturan, serta iklim politik yang sehat.

“Tetapi, segala aturan yang menyangkut kampanye dan proses pemilihan umum juga harus ditegakkan. Disitulah, nilai-nilai demokrasi benar-benar dijalankan. Saya ingin berkompetisi secara sehat, karena saya nggak ingin sesuatu yang instan,” begitu Wanda Hamidah yang cantik.

Wanda Hamidah: Politisi dimanapun selalu buruk citranya

Tak banyak aktivis atau politikus perempuan di negeri ini. Ia salah satunya. Banyak orang bilang politik itu kotor...lalu, mengapa ia mau? Mari mengenal lebih dekat Wanda Hamidah

Berikut wawancara Chantal Delaconcetta dengan Wanda Hamidah

Chantal (Ch): Apa alasan memilih menjadi politikus sebagai profesi?

Wanda (Wd): "Sebenarnya kalau dibilang 'memilih' tidak juga ya. Namun, setelah aktif di organisasi kemahasiswaan di Trisakti 1998 dan turut serta dalam menggerakkan rekan-rekan mahasiswa dalam unjuk rasa menuntut perubahan kala itu, saya merasa jalan yang paling natural setelah pemerintahan Orde Baru jatuh adalah bergabung dengan Partai Politik, dan saya memilih PAN kala itu karena merasa platformnya paling sejalan dengan tuntutan kaum reformis. Jadi sejak 1998 saya sudah memilih politik sebagai salah satu jalur hidup."

Ch: Sulitkah menjadi anggota DPRD, di tengah sikap masyarakat yang sudah semakin skeptis akan kinerja wakil rakyat?

Wd: Sebenarnya kalau mau jujur, politisi di belahan dunia manapun itu selalu buruk kok citranya, di negara dengan kehidupan demokrasi yang sudah mapan seperti Amerika Serikat pun, sulit sekali menggapai lebih dari 50% warga dengan hak pilih untuk memilih dalam pemilu. Ini cermin ketidakpercayaan masyarakat. Saya memilih untuk tak ambil pusing dengan suara-suara minor yang memang sudah 'putus asa', saya fokuskan untuk bekerja dan mendengar aspirasi yang disampaikan serius bukan sekedar untuk menguji atau memaki.

Kadang-kadang rasa kesal tentu ada, apalagi dengan terus terang penghasilan yang tak seberapa bila dibandingkan saya bekerja sebagai Notaris. Tapi ini tak sering kok. Saya sudah memperhitungkan segala resiko berada di jalur ini."

Ch: Sebagai anggota DPRD DKI, apa yang kini sedang Wanda perjuangkan?

Wd: "Wah banyak ya, saya bagi di 3 kategori ya. Kategori 1 adalah tentunya perjuangan yang spesifik sudah saya tekadkan dan persiapkan program-programnya sejak lama yaitu 'women & youth empowerment' memberdayakan kaum mayoritas (perempuan & kaum muda adalah mayoritas) yang selama ini aspirasinya justru dipendam. Hal-hal seperti keamanan & kenyamanan bagi perempuan dalam bekerja, ruang terbuka untuk berekspresi bagi kaum muda, pendidikan, ketrampilan dll.

Kategori 2 adalah tugas-tugas spesifik kedewanan seperti budgeting, pengawasan & pembuatan regulasi atau Perda (tk. Propinsi) di mana saya berupaya semaksimalnya untuk bekerja transparan tanpa vested interest (proyek maupun gratifikasi) dan menuntut transparansi serta memperjuangkan perda-perda yg berpihak pada kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pemilik modal. Perda perlindungan perempuan & anak juga adalah inisiatif saya sejak duduk 2 tahun lalu.

Kategori 3 adalah kerja extra-parlemen, di mana saya dibantu team yg fokus di grass root selalu menggali aspirasi dari bawah & juga secara aktif mengadvokasi langsung kendala-kendala riil yg dihadapi oleh warga Jakarta seperti pelayanan kesehatan yg tak memadai, pendidikan juga masalah hukum."

Ch: Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan perempuan jangan pakai rok mini jika tidak ingin diperkosa. Gubernur kemudian meminta maaf atas pernyataannya. Apa sikap Wanda atas hal ini?

Wd: "Saya menyesalkan sekali ada kata-kata seperti itu keluar dari seorang pejabat publik apalagi setingkat Gubernur. Bukan pada tempatnya dia memberikan statement yang memberikan kesan permisif terhadap kejahatan seksual yang seharusnya dikategorikan sebagai sebuah kejahatan yang setara dengan yang terburuk lainnya. Saya melihat selain kurangnya kepekaan pejabat-pejabat kita, statement seperti itu bisa jadi adalah wujud 'reflek' untuk melemparkan kesalahan (dalam hal ini ketidakmampuan memelihara keamanan kota) kepada pihak lain atau dengan kata lain menolak untuk bertanggungjawab atas kesalahan. Ini sudah membudaya di kalangan pejabat publik."

Ch: Apa yang seharusnya pemerintah lakukan untuk membuat masyarakat merasa aman?

Wd: "Saya akan menjawab ini secara sektoral, yaitu apa yang PemProv DKI dapat lakukan dalam meningkatkan keamanan & keamanan bagi warganya. Penerangan (lampu jalan, halte, terminal, pasar dll) harus tetap terjaga agar berfungsi dgn baik, Satpol PP yg berjumlah ribuan harus diberdayakan untuk mengemban tugas memberikan keamanan untuk masyarakat bukan hanya 'mengamankan atau menertibkan' seperti yg selama ini dilakukan, ketegasan Pemprov terhadap kelompok-kelompok yang secara reguler menjadi momok bagi terciptanya keamanan kota sangat dibutuhkan, bukan malah tunduk dengan 'vigilante”'yang berperilaku arogan serta destruktif."

Ch: Pelecehan terhadap perempuan dianggap hal yang biasa, seringkali tindakan kriminal ini justru menyalahkan si korban, dan bukan pelaku kejahatan. How do you feel about this?

Wd: "Tentu anggapan-anggapan seperti ini membuat saya terusik namun ini juga menjadi tantangan bagi saya yang memiliki akses untuk melakukan perubahan dalam sisi legal formal agar perlindungan terhadap perempuan melalui perangkat-perangkat hukum dapat ditingkatkan."

Ch: Menurut Wanda, apakah penting menjadi perempuan mandiri?

Wd: "Kemandirian adalah sebuah kualitas yg penting untuk dimiliki oleh semua manusia. Terlebih bagi seorang perempuan yang sudah takdir alamnya tak hanya dituntut untuk hidup mengurus dan menjaga dirinya sendiri tapi juga anak-anaknya, mendidik mereka sampai menjelang dewasa."

Ch: Apa keuntungan dan kenikmatannya ketika perempuan menjadi mandiri?

Wd: "Bagi saya kemandirian adalah anugerah yang kita dapat dari Allah SWT, di mana saya sangat mensyukuri dilahirkan oleh orang tua yang mampu memberikan penghidupan & pendidikan yang memadai sehingga menjadi modal untuk saya berkembang dan tumbuh mandiri. Keuntungannya tentu perasaan aman atau 'security' di mana saya tak harus khawatir akan kemampuan diri saya demi keberlangsungan hidup yang berkecukupan & memadai sampai kapanpun dalam situasi apapun."

Ch: Wanda punya anak laki dan perempuan. Apa nilai-nilai keluarga yang Wanda ajarkan pada anak-anak agar anak menjadi pribadi yang mandiri?

Wd: "Mulai dari hal kecil ya. Sejak dini, usia pra-sekolah mereka saya biasakan mandi sendiri, memakai sepatu sendiri, merapikan mainannya setelah mereka bermain. Dan bukan hanya tugas, tapi juga sedikit-sedikit saya berikan mereka kebebasan dalam memilih apa yg mereka inginkan. Ini sama pentingnya dengan tugas karena bila mereka terbiasa dalam menentukan pilihan, mereka akan terbiasa menjadi pribadi-pribadi yg bertanggung jawab dan tidak mudah menyalahkan orang lain bila terjadi hal buruk menimpa diri mereka, inipun merangsang kemampuan problem solving mereka."

Ch: Perempuan mandiri adalah?

Wd: "Perempuan yang utuh, seperti yang diinginkan oleh Sang Pencipta-Nya, yaitu yang mampu mengemban tugas-tugas manusia sebagai pemelihara bumi & seisinya, mampu menjalankan peran-perannya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, mitra yang membahagiakan & 'reliable' bagi suaminya, serta siap menghadapi kehidupan dunia dalam segala kondisi dengan tetap berpegang teguh pada norma & etika umum di masyarakat."

Via Wanda Hamidah: Politisi dimanapun selalu buruk citranya

Cita-cita Wanda Hamidah untuk Jakarta


Menurut Wanda, Jakarta sebagai ibukota sudah tidak memanusiakan warganya. Aksi premanisme, kasus pelecehan seksual di angkutan umum, pedesterian bagi pejalan kaki direnggut pengguna kendaraan bermotor adalah salah satunya.

Tak sampai di situ, kata Wanda, dari proses penegakan hukum pun tebang pilih. Keamanan dan kenyamanan asing dirasakan kaum menengan ke bawah. Kenyamanan dan keamanan jadi barang mewah kau kaya kota.

Sedang misi Wanda adalah memberdayakan masyarakat ibukota. Misi ini dipilihnya mengingat banyak hal yang bisa diberdayakan warga untuk meningkatkan kenyamanan. Sebut saja pengelolaan sampah.

Via Wanda Hamidah Janji Manusiakan Ibukota
Judul: Wanda Hamidah, sekelumit tentang mimpi Jakarta ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

1 komentar :

Post a Comment