Monday, February 20, 2012

Tabrakan Kereta Api Batubara di Prabumulih

Dua kereta api batubara rangkaian panjang atau KA Babaranjang bertabrakan di antara Stasiun Niru dan Stasiun Penimur di kilometer 336 Prabumulih, Sumatera Selatan, Minggu (19/2/2012) pukul 05.50 tadi pagi. Dikabarkan 4 orang tewas akibat kecelakaan itu. Korban adalah masinis dan asisten masinis dari masing-masing kereta. Tabrakan terjadi antara KA BBR 36 dan lokomotif CC 202-9001/9005 yang menarik 44 gerbong batubara kosong dengan KA SCT 2 dengan lokomotif CC 201 8911 yang menarik 16 gerbong batubara isi penjelasan VP Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia, Sugeng Priyono.


Sugeng kini masih dalam perjalanan menuju lokasi kejadian. Lintas Prabumulih-Lahat, baru dapat dilintasi kembali pada hari Minggu sekitar pukul 23.00.

Alat transportasi kereta api batubara di Sumatera Selatan merupakan tulang punggung pengangkutan batubara dari tambang milik BUMN Bukit Asam. Ketersediaan transportasi KA batubara juga sedikit banyak berperan mempertahankan kualitas jalan di Sumatera Selatan dan Lampung.

Evakuasi Tabrakan Kereta Batubara di Prabumulih

Puluhan petugas terus mengevakuasi kereta api angkutan batubara yang bertabrakan di Simpang Penimur, Prabumulih, Sumatera Selatan, Minggu.

Pantauan di lokasi kejadian, petugas dari PT KAI Divre III Sumatera Selatan tersebut terus mengangkat gerbong angkutan batubara yang masuk jurang akibat tabrakan tersebut.

Begitu juga alat berat terus berupaya untuk mengangkat gerbong yang tertabrak tersebut. Akibat tabarakan tersebut empat orang meninggal dunia dan dua luka-luka.

Korban yang meninggal dunia masing-masing Jaswir masinis kereta api batubara dari Lampung, Ranggi Asisten masinis (Lampung) dan dua lagi dari kereta batubara dari Sukacinta Lahat.

Korban yang meninggal dari kereta Lahat yakni Sunaidi dan Sajudin yang keduanya dibawa ke Lahat. Sementara dua orang yang luka sekarang sudah pulang karena sudah sehat.

Humas Divre III PT KAI Sumsel, Jaka Jakarsih di lokasi kejadian mengatakan, memang kereta api Batubara bertabrakan di Simpang Penimur Prabumulih.

Menurut dia, kereta api asal Lampung sebenarnya sudah kosong setelah mengangkut Batubara, namun setiba di Simpang Penimur terjadi tabrakan dengan kereta dari Lahat.

Dikatakan, kereta dari Lampung tersebut sebelumnya isterahat dan sepuluh menit setelah berangkat terjadi tabrakan.

Untuk kereta api dari Lampung sebanyak 44 gerbong, sementara dari Lahat 16 gerbong yang semuanya masih berisi batubara, kata dia pula.

Ketika ditanya tentang, sebab terjadinya kecelakaan, dia belum bisa menyebutkan karena saat ini masih dalam penyelidikan.

"Kami belum mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan karena Kementerian Perhubungan yang melakukan penyelidikan. Begitu juga kerugian pihaknya belum bisa memperkirakan," ujarnya.

Namun, lanjut dia, akibat kejadian tersebut kereta api dari Kertapati Palembang tujuan Lubuklinggau, Sumsel, dan sebaliknya belum bisa berangkat Minggu malam (19/2/2012).

Aktivitas Stasiun Tanjungkarang Normal

Operasional kereta api penumpang dari Bandar Lampung ke Palembang malam ini berjalan normal. Tidak ada penundaan jadwal keberangkatan KA malam ini menyusul tabrakan dua kereta babaranjang di Sumsel.

Seperti terlihat Minggu (19/2/2912) malam ini, aktivitas di Stasiun Tanjungkarang nampak normal, ramai oleh calon penumpang yang hendak menunggu keberangkatan KA Eksekutif Limex Sriwijaya II tujuan Bandar Lanpung-Palembang.

Menurut Kepala Stasiun Tanjungkarang Sanusi, KA Limex Sriwijaya tetap berangkat sesuai jadwal, yaitu Pukul 21.00 WIB. Proses evakuasi dua rangkaian kereta babaranjang naas di Prabumulih tidak sampai mengganggu jadwal kereta tujuan Palembang.

"Soalnya, lokasi kecelakaannya berbeda jalur dengan KA penumpang yang ke Palembang. Namun, untuk kereta batubara yang tujuan ke Tanjung Enim (Sumsel) dari Tarahan (Lampung) memang jadi tertunda," tuturnya.

Setiap hari, setidaknya ada 15-18 kereta babaranjang pengangkut batubara dari Tanjung Enim ke PT Bukit Asam Tarahan dan sebaliknya. Kereta babaranjang ini merupakan transportasi vital untuk mengangkut batubara yang salah satunya dipergunakan untuk bahan pembangkit listrik di Tarahan.

29000 ton batubara gagal distribusi

Sebanyak 29.000 ton batubara PT Bukit Asam tertunda dikirim karena terhentinya jalur kereta akibat tabrakan dua kereta pengangkut batubara di Simpang Empat Air Rimau, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Minggu (19/2/2012) pagi tadi.

Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam (PT BA) Hananto Budi Laksono mengatakan, pengiriman yang tertunda adalah kiriman batubara ke Tarahan, Lampung, sebanyak 24.000 ton dan kiriman ke Kertapati, Palembang, Sumsel, sebanyak 5.000 ton. "Ada 17 rangkaian kereta yang terhenti karena tabrakan itu," katanya.

Namun secara umum, kata Hananto, penundaan ini belum mengganggu kegiatan operasional maupun menimbulkan kerugian bagi PT BA. "Tak ada gangguan atau kerugian bagi PT BA. Kereta juga dijanjikan sudah dapat beroperasi normal pukul 23.00 nanti malam," ucapnya menambahkan.

Saat ini, PT KAI Divre III mengoperasikan 33 kereta pengangkut batubara. Sebanyak 18 di antaranya merupakan KA Babaranjang yang mempunyai rangkaian 40 gerbong dengan muatan 50 ton per gerbong.

Tabrakan dua kereta pengangkut batubara terjadi antara KA Batubara Rangkaian Panjang (Babaranjang) 36 dan KA Sukacinta II di Kilometer 336,90 Prabumulih-Muara Enim, antara Stasiun Penimbur dan Stasiun Niru, Minggu pagi sekitar pukul 05.50. Saat tabrakan, KA Babaranjang 36 yang membawa 44 rangkaian gerbong kosong menghantam KA Sukacinta II yang membawa 16 rangkaian gerbong bermuatan batubara yang juga tengah melaju dari arah berlawanan. Hingga saat ini belum diketahui penyebab tabrakan.

Tabrakan menewaskan empat orang, yaitu Jaswir dan Ranggi, keduanya masinis dan asisten masinis KA Babaranjang 36, serta Sunaidi dan Sajidin, masinis dan asisten masinis KA Sukacinta II.

Via Kompas
Judul: Tabrakan Kereta Api Batubara di Prabumulih ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

0 komentar :

Post a Comment