Monday, March 12, 2012

Remembering Nike Ardilla 1975 - 1995

Remembering Nike Ardilla

Profil Nike Ardilla

Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi atau Nike Ardilla (lahir di Bandung, Jawa Barat, 27 Desember 1975 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 19 Maret 1995 pada umur 19 tahun) adalah penyanyi dan artis berkebangsaan Indonesia. Ia tewas pada 19 Maret 1995 ketika mobil Honda Civic yang dikendarainya menghantam beton di jalan RE Martadinata di kota Bandung. Ia meninggal dunia di saat popularitasnya sedang memuncak. Nike Ardilla merupakan penyanyi, bintang film, model, bintang iklan dan seniman paling sukses di semua bidang entertainment dan di Indonesia belum ada orang lain yang sukses di semua bidang entertainment.[rujukan?] Walaupun sudah wafat akan tetapi Nike Ardilla Masih produktif mengeluarkan album, meskipun albumnya masih sama, hanya berganti cover saja.[1] Selama sejarah entertainment Indonesia ada, hanya Nike Ardilla artis satu-satunya yang mendapatkan penghormatan paling tinggi dimana setiap tanggal kelahirannya dan kematiannya selalu diperingati.[2]. Boleh dikatakan hanya Nike Ardilla artis dengan pengaruh besar di industri hiburan Indonesia bahkan Asia. Nama Nike Ardilla mungkin bisa disejajarkan dengan Bruce Lee.[rujukan?]

Nike Ardilla adalah gadis kelahiran Bandung tanggal 27 Desember 1975 dari pasangan R. Eddy Kusnadi dan Nining Ningsihrat. Sejak kecil sudah mengawali karier dengan mengikuti berbagai festival menyanyi di Bandung, sampai kemudian bakatnya ditemukan oleh produser musik Deddy Dores. Karier musiknya di dunia hiburan pun dimulai. Tahun 1987, Ibunya memboyong Nike Ardilla ke Himpunan Artis Penyanyi Musisi Indonesia (HAPMI) asuhan Djadjat Paramor. Di sana ia bertemu dengan Deni Kantong, guru menyanyinya, dan Deni Sabrie yang kemudian menjadi manajernya. Deni Kantong dan Sabrie memperkenalkannya pada Deddy Dores. Deddy membuatkan beberapa lagu untuk album pertama Nike yang bertajuk Seberkas Sinar yang terjual lebih dari 500.000 ribu kopi.[3] Sebelumnya Deddy Dores juga sempat menyatukan Nike dengan dua anak didik Deddy dan Deni bernama Deni Angels bersama Cut Irna dan Lady Avisha. Tahun berikutnya Nike merilis album keduanya yang bertajuk Bintang Kehidupan yang mendapatkan sambutan luar biasa, dan terjual dengan angka yang fantastis, yaitu 2 juta unit Selanjutnya Nike merilis album-album yang menjadi best seller. Karier Nike Ardilla dalam dunia seni peran juga berjalan mulus. Nike bermain film Kasmaran yang dibintangi juga oleh Ida Iasya dan Slamet Rahardjo, 1987. Dan juga menjadi pemeran utama di Film Ricky Nakalnya Anak Muda bersama almarhum Ryan Hidayat pada tahun 1990 dan terus melahirkan film-film box office sepanjang periode akhir 80-an dan awal 90-an. Nike Ardilla juga sukses dalam beberapa sinetron. Selain sebagai penyanyi dan bintang film, Nike Ardilla juga mengawali kariernya sebagai seorang model. Terbukti dengan menjadi pemenang Favorit pada ajang GADIS SAMPUL 1990.[4]

Kronologi Kecelakaan Nike Ardilla dari blog Fans Nike Ardilla

18 Maret 1995, Sabtu

06:00 : Nike Ardilla di rumah kontrakannya, Jl. Mangga No.10A, Fatmawati-Jakarta Selatan.

Ia tampak kelelahan setelah syuting Trauma Marissa II yang makan waktu sembilan jam dan baru berakhir pukul 02.00. Adegan terakhir Nike sebagai Marissa adalah mengadili dokter Parsidi (drg. Fadly). Ada sejumlah temannya berkunjung sejak dini hari, yakni Deddy Dhukun, Rany Noor, Melly Guslow, Mona, Nona, Anggun dan Fitri.

Malam itu, Nike tidak bisa tidur dan minta Nona menemaninya nonton film Cinderella di video VHS yang baru dibeli. Ia juga sempat minta didoakan dan berpesan agar Fitri sepupunya yang ikut dia dijaga baik-baik.

08:00 : Nike dan Sofiatun Wahyuni (Atun) menuju lokasi syuting Warisan II di Jl. Atletik, Bogor.

Mobil Nike dikemudikan Alim, sopir yang dipinjam pak David, tetangganya di Jl. Mangga.

10.00 : Tiba di lokasi syuting.

Nike langsung minta maaf kepada seluruh kru. Ia juga memeluk Darto Joned. “Lama sekali, sampai-sampai saya tanya, Kenapa kamu?”, kata sang sutradara. Ketika di make-up, tiba-tiba saja Nike minta alisnya dirias bak Marlyn Monroe, idolanya.

12.30 : Syuting dimulai.

Nike mendapat jatah empat adegan. Pertama terima telepon, disusul adegan bertengkar dengan Bram (Tahta), lalu makan sambil berdialog dengan ayahnya (El Manik).

Terakhir adegan turun tangga. Nike sempat minta air jeruk, kecap, roti bantal. Katanya untuk mengobati suaranya yang serak. Ia juga minta rokok Marlboro kepada seorang kru, padahal biasanya cuma menghisap Dunhil hijau.

Yang aneh saat syuting adegan bertengkar dengan Bram. “Bagaimana mungkin satu scene yang mestinya rampung setengah jam, makan waktu 3,5 jam” Tahta menceritakan kembali. Menurut Tahta, berkali-kali Nike minta maaf karena salah ucap. “Dia sering nambah-nambahin dialog.

Perkebunan jadi perkebunannan. Sebentar-sebentar lihat skenario, seperti nggak ada yang nempel. Saya sampai kehabisan akal. Tapi anehnya para kru diam saja. Padahal biasanya mereka suka nyeletuk.” Menurut Tahta, pada adegan ketika ia memegang pundak Nike, terasa begitu dingin tanpa ekspresi. “Kata orang, yang saya hadapi sebenarnya bukan Nike lagi,”
ujarnya sambil merinding.

19.30 : Syuting selesai.

Sebelum pamit ke Bandung, Nike sempat memeluk Darto lagi. “Saya sempat mencegahnya karena mengkhawatirkan staminanya, apalagi esok paginya dia harus syuting lagi,” kata Darto. Karena tak bisa mencegahnya, Darto cuma berpesan supaya hati-hati. Sebelum pulang, lagi-lagi Nike minta alisnya dirias seperti Malrlyn Monroe.

Selama perjalanan ke Bandung, Nike tak banyak bicara. Alim yang nyetir, Nike dan Atun duduk di jok belakang.

23.00 : Di rumah, Nike sempat minta maaf kepada ibunya.

“Do’a kan Neneng (panggilannya di rumah), agar tetap sehat.
Kalau ada kesalahan, hampura (maafkan; Sunda) saja. Selama ini Neneng sudah menyusahkan Papi-Mami,” katanya, seperti ditirukan Atun. Ny. Nining Ningsihrat, ibu Nike meng’iya’kan saja, tanpa firasat apapun.

23.30 : Nike dan Atun meninggalkan rumah.

Nike yang nyetir, sementara Alim disuruh istirahat karena besok kembali ke
Bogor. Ditengah perjalanan ke diskotik Studio East, Nike ditelepon Eddy Bogel, fotografer Aneka. Ia diminta langsung ke Hotel Jayakarta di Jl. Ir. Juanda, karena teman-temannya dari Jakarta ingin ke Diskotik Pollo di Jl. Asia Afrika.
Dan Nike sudah janji mengantar mereka.

19 Maret 1995, Minggu.

00.00 : Nike dan Atun tiba di Hotel Jayakarta, Bandung.

Mereka langsung menuju Pollo dengan tiga mobil, bersama-sama Eddy Bogel, Ari Sihasale dan seorang peragawati.

00.30 : Tiba di Pollo.

Nike bertemu dengan Titi Dj, Bucek Deep, Lucy Dahlia dan lain-lainnya. Malam itu Nike cuma pesan orange juice, biasanya dicampur vodka. Ia lebih banyak duduk sambil terdiam. “Saya dua tahun ikut dia, jadi kenal betul kebiasaannya.

Nggak biasanya dia begitu,” kata Atun.

03.00 : Mereka meninggalkan Pollo.

Nike melihat ban kiri mobilnya kempes. Denny Mukti membantunya memasang ban cadangan yang lebih kecil dari ban lainnya. Nike sempat diingatkan Denny agar hati-hati.

03.30 : Tiba di Restoran Kintamani, Jl. Lombok.

Nike sempat bilang sama Atun, ingin makan makanan yang belum pernah ia makan, Ia pesan sop jagung dan aqua. Lagi-lagi ia banyak diam. Kepada Padma Sigit, restauran captain, ia sempat bilang sambil menunjuk atap, “Ada kucing.” Sigit cuma tersenyum.

04.30 : Keluar dari Kintamani.

Nike lebih dulu mengantar Eddy Bogel dan Ari Sihasale ke hotel.

05. 15: Meninggalkan hotel Jayakarta.

Dengan kecepatan sedang saja karena mobil terasa tidak stabil, mereka menyusuri Jl. Ir. H.Juanda, lalu masuk Jl. Sultan Agung, Jl. Trunojoyo, Jl. Aceh, dan Jl. RE Martadinata. Jarak Hotel Jayakarta dengan lokasi kecelaka’an
sekitar 6,5 km saja. Tapi agak mengherankan, kecelakaan itu terjadi sekitar satu jam kemudian.

06.15 :……………………………………….

Penyebab Kecelakaan Nike Ardilla

Honda Civic Genio biru metalic bernomor polisi D 27 AK menabrak pagar beton bak sampah, setelah sebelumnya sempat melakukan manuver mendadak. Pengemudianya tewas seketika, yang tidak lain adalah Nike Ardilla.

Awalnya Genio tersebut berusaha menyalip mobil di depannya, namun dari arah berlawanan ada mobil lain, sehingga Nike membanting setir terlalu kiri sehingga menabrak pohon dan terpental menabrak pagar beton bak sampah kantor Usaha Pribadi.

Masalahnya, mungkin penyanyi yang albumnya sudah terjual lebih dari 5 juta keping ini lupa kalau sebelumnya ia sempat mengganti ban mobilnya dengan ban serep yang ukurannya lebih kecil.

Menurut kronologis yang dikutip dari situs Nike Ardilla Fans Club, dinyatakan kalau Nike saat itu menggunakan ban serep yang lebih kecil.

"Nike melihat ban kiri mobilnya kempes. Denny Mukti membantunya memasang ban cadangan yang lebih kecil dari ban lainnya. Nike sempat diingatkan Denny agar hati-hati," tulis blog tersebut.

Terlepas dari apa sebenarnya penyebab kecelakaan Nike Ardilla, namun ban serep beda ukuran bisa menjadi potensi penyebab kecelakaan, apalagi kalau kita tidak memperlakukannya secara khusus, terutama saat mengemudikan mobil yang menggunakan ban serep beda ukuran.



Source: Forum Kami | Fans Blog | Wikipedia
Judul: Remembering Nike Ardilla 1975 - 1995 ; Ditulis oleh Bolo Srewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

0 komentar :

Post a Comment