Monday, June 25, 2012

sisi gelap sosial media



Penelitian menemukan sebuah hubungan yang dekat antara jumlah teman yang dimiliki di Facebook dan tingkat dimana anda adalah orang narsis dan tingkat perusakan kerukunan menjadi kesumpulan pada beberapa tingkat skeptisitas di sosial media.

Orang yang memiliki nilai pada kuestioner Inventori Personal Narsistik yang tinggi memiliki teman yang banyak di Facebook, melakukan taging yang banyak kepada dirinya sendiri dan sangat sering, serta secara teratur mengupdate statusnya.

Penelitian juga membuktikan bahwa situs pertemanan sosial seperti Facebook & Twitter adalah gerbang menuju hubungan yang cetek, komunikasi tanpa hati nurani, & bullying.

Dalam penelitiannya Prof. Carpenter, menemukan bahwa para pengidap gangguan narsistik merespon secara agresif komen-komen yang menyerang dan mereka sering sekali mengganti foto profil mereka. Penelitian ini juga di terbitkan dalam Jurnal Personality and Individual Differences.

Sejumlah penelitian di waktu lalu telah menemukan hubungan antara narsisme dan penggunaan Fecebook, namun hal ini hanyalah penemuan pertama yang menyangkut hubungan langsung antara teman Facebook dan banyak elemen 'racun' dari gangguan personal dalam narsisme.

Peneliti di Western Illinois University mempelajari kebiasaan Facebook 294 pelajar berumur 18 – 65, dan mengukur dua elemen narsisme yang mengindikasikan ‘socially disruptive’, yaitu: Grandiose Exhibitionism (GE) dan Entitlement/Exploitativeness (EE).

Grandiose Exhibitionism mencakup sikap: memuja diri sendiri, membesar-besarkan pendapat pribadi, kecenderungan menguasai, dan suka pamer. Orang-orang yang mendapat nilai tinggi dalam aspek narsistik ini lebih sering memposisikan dirinya sebagai pusat perhatian. Mereka sering berbicara tentang hal-hal yang mengagetkan dan membuat pengakuan pribadi yang tidak layak, karena mereka tak tahan diabaikan serta tidak merelakan terbuangnya kesempatan untuk mempromosikan dirinya sendiri diantara peer group.

Aspek Entitlement/Exploitativeness mencakup ‘dorongan untuk meraih penghormatan dan keinginan untuk memanipulasi dan mengambil keuntungan dari orang lain.’

Penelitian menemukan juga bahwa nilai yang tertinggi pada seseorang pada aspek Grandiose Exhibitionism, memiliki jumlah teman biasanya diatas angka 800 orang.

Skoring ini menitik beratkan pada aspek EE dan GG yang cenderung untuk menerima permintaan pertemanan dari orang asing dan mencari dukungan sosial, namun tidak untuk memberi dukungan sosial kepada orang lain, hal ini adalah menurut hasil dari riset tersebut.

Carol Craig, seorang ilmuwan sosial di Inggris dan seorang chief executive dari Centre for Confidence dan Well-being mengatakan bahwa anak muda di Inggris meningkat menjadi narsistik dan Facebook memberikan sebuah platform untuk mendukung gangguan kejiwaan tersebut.

"The way that children are being educated is focussing more and more on the importance of self esteem – on how you are seen in the eyes of others. This method of teaching has been imported from the US and is 'all about me'.

"Facebook provides a platform for people to self-promote by changing profile pictures and showing how many hundreds of friends you have. I know of some who have more than 1,000."

Dr Viv Vignoles, seorang dosen senior di Universitas Sussex jurusan psikologi sosial mengatakan, ada bukti yang jelas dari penelitian di Amerika bahwa para mahasiswa mengalami peningkatan menjadi narsistik. Namun dia juga menambahkan bahwa hal ini masih menjadi pertanyaan yang terbuka.

"Without understanding the causes underlying the historical change in US college students, we do not know whether these causes are factors that are relatively specific to American culture, such as the political focus on increasing self-esteem in the late 80s and early 90s or whether they are factors that are more general, for example new technologies such as mobile phones and Facebook."

Viv Vigoles mengatakan bahwa korelasi alamiah dari penelitian yang terakhir memiliki makna bahwa ada kesulitan untuk memastikan bahwa dalam perbedaan individu dalam narsisme menjadikan pola yang pasti dalam perilaku di Facebook, apakah perilaku di Facebook juga akan membawa perbedaan individu dalam hal narsisme, atau keduanya.

Christopher Carpenter yang melakukan penelitian ini mengatakan bahwa secara umum sisi gelap Facebook membutuhkan lebih banyak riset untuk mengetahui secara baik tentang manfaat Facebook secara sosial dan aspek-aspek yang berbahaya dalam upaya untuk meningkatkan jangkauan dan pembatasan pada akhirnya.

"If Facebook is to be a place where people go to repair their damaged ego and seek social support, it is vitally important to discover the potentially negative communication one might find on Facebook and the kinds of people likely to engage in them. Ideally, people will engage in pro-social Facebooking rather than anti-social me-booking."

[ via Facebook's 'dark side': study finds link to socially aggressive narcissism ]
sisi gelap sosial media
Ditulis oleh: Horizon Inspirasi pada 25 Juni 2012
Rating: 4.5
Judul: sisi gelap sosial media ; Ditulis oleh bolosrewu ; Rating Blog: 4.5 dari 5

3 comments :

  1. Sekarang socmed semakin ga karuan mas..
    malah bikin puyeng.. ^_^

    Nice article..

    ReplyDelete
  2. kita harus tahu diri cara memanfaatkan sosmed. trims infonya ya, sangat menarik dan informatif banget

    ReplyDelete